Kamis, 22 April 2021

Covid-19 Hantam Pasar Smartphone Dunia, Jatuh di Bawah 300 Juta Unit

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Ilustrasi.

Dampak pandemi corona (Covid-19) telah menghantam pasar smartphone dunia yang pada kuartal pertama tahun ini berada di bawah 300 juta unit, untuk pertama kalinya sejak 2014.

Pasar smartphone global kuartal pertama 2020 turun 13 persen dari tahun ke tahun, menurut perusahaan pemantau pasar Counterpoint, sementara pandemi Covid-19 telah mengganggu tanda-tanda pemulihan yang ditunjukkan pada kuartal empat 2019.

Pasar smartphone kuartal pertama 2020 hanya mencapai 295 juta unit, sedangkan pada periode sama 2019 mencapai 341 juta unit.

Penurunan kuartal pertama terutama didorong oleh penurunan pengiriman 27 persen YoY di China, pusat awal pandemi. Beberapa penurunan diimbangi oleh pengalihan penjualan ke saluran online.

Secara keseluruhan, pangsa pasar China di pasar ponsel pintar global, pada Q1 2020 berkurang menjadi 22 persen dari 26 persen tahun lalu. Gangguan di China juga berdampak pada sisi penawaran handset dan komponen untuk beberapa OEM (original equipment manufacturer), yang pada gilirannya, memengaruhi pengiriman global.

Pada akhir kuartal, ketika Covid-19 mulai menyebar ke kawasan lain, dan karantina wilayah diberlakukan, pendulum gangguan mulai berayun dari pasokan ke permintaan.

“Dari sudut pandang konsumen, kecuali mengganti ponsel yang rusak, smartphone sebagian besar merupakan pembelian diskresioner.”

“Konsumen, di bawah masa yang tidak pasti ini, kemungkinan akan menahan melakukan banyak pembelian diskresioner yang signifikan. Ini berarti siklus penggantian cenderung menjadi lebih lama,” kata Tarun Pathak, Associate Director di Counterpoint Research, dikutip Antara, Senin (11/5/2020).

Efek pandemi yang berkelanjutan di pasar ponsel cerdas kemungkinan akan lebih buruk di kuartal kedua. Pasar China sedang pulih, sementara banyak pasar utama lainnya sedang terkunci. Tergantung pada tingkat keparahan pandemi, pemulihan di beberapa pasar ini juga bisa memakan waktu lebih lama.

Ke depan, merek dengan pangsa lebih besar di China, seperti Huawei, berada dalam posisi yang lebih baik daripada merek seperti Samsung, yang hampir semua pasar utamanya tetap terkunci.

Pada Q1 2020, OEM dengan komponen dan pabrik di daerah yang paling terpukul di China terdampak paling besar, misalnya Lenovo. Pada kuartal kedua, tren akan berbalik, karena manufaktur China pulih, tetapi banyak pusat manufaktur lainnya ditutup.

Dari sisi saluran penjualan, merek-merek dengan kehadiran online yang lebih tinggi cenderung tetap lebih kebal daripada yang offline. Beberapa permintaan offline dialihkan ke online.

Segmen premium paling tidak mungkin terkena dampak langsung dari krisis ekonomi. Karena konsumen akan menyesuaikan diri dengan standar normal baru, penjualan di segmen tersebut cenderung meningkat.(ant/iss/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Asap Kebakaran Semolowaru

Kecelakaan di Lawang

Truk Bermasalah di Trosobo

Eh Eh, Capek. Istirahat Dulu

Surabaya
Kamis, 22 April 2021
29o
Kurs