Rabu, 25 November 2020

Masyarakat Jangan Panik Jika Tak Ingin Ada Kelangkaan Pangan

Laporan oleh Agung Hari Baskoro
Bagikan
Gigih Prihantono Pengamat Ekonomi Universitas Airlangga Surabaya. Foto: Baskoro suarasurabaya.net

Kelangkaan pangan bisa terjadi jika masyarakat panik menghadapi pandemi COVID-19 yang sedang melanda Indonesia.

Gigih Prihantono Pengamat Ekonomi Unair mengatakan, meningkatnya jumlah kasus positif dan kematian akibat virus corona serta isu lockdown saat ini, berpotensi mendorong gelombang panic buying besar di masyarakat.

“Isu lockdown ini membuat permintaan (pangan) meningkat. Orang harus stok barang. Tapi di satu sisi, ketika permintaan meningkat, suplai pada waktu itu lemah, itu meningkatkan harga barang tersebut,” ujar Gigih pada Jumat (20/3/2020).

Gigih menekankan, jika kondisi ini terus berlangsung, maka harga bahan-bahan pokok akan naik dan menggerus daya beli masyarakat.

“Masyarakat sendiri harus tenang. Dihitung benar-benar kebutuhan mereka. Membeli sewajarnya,” katanya.

Ia juga meminta agar media massa tidak memperkeruh informasi dengan informasi-informasi buruk tanpa diimbangi informasi positif. Sebab, kata Gigih, pemberitaan juga bisa menjadi driven atau pendorong masyarakat untuk panik.

“Kalau orang bilang lockdown begini begitu, ekspektasi orang, kalau lockdown, berarti harus beli dulu nih, supaya saya gak kena. Iya, itu akhirnya membikin kelangkaan pangan,” jelasnya.

Di sisi lain, Joko Widodo Presiden sebelumnya memastikan ketersediaan bahan kebutuhan masih cukup memadai untuk kebutuhan masyarakat. Ia juga memerintahkan bulog uhtuk segera melakukan operasi pasar.

Gigih menilai, operasi pasar tidak terlalu berdampak mengatasi masalah ini. Sebab, berdasarkan riwayatnya, biasanya seminggu setelah operasi pasar dilakukan, harga barang akan kembali naik.

“Kita juga gak bisa melawan hukum permintaan dan penawaran. Daripada operasi pasar, pemerintah mending memberi stimulus pada masyarakat secara langsung,” katanya.

Ia sepakat, jika pemerintah memberikan stimulus unuk menggerakkan perekonomian Indonesia. Stimulus fiskal ini bisa diberikan ke beberapa industri yang sangat terdampak salah satunya hotel dan restoran. (bas/ang/ipg)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Truk Trailer Mogok di Flyover Trosobo

Proses Pencarian Korban Tenggelam di Taman Sidoarjo

Kecelakaan Mobil di Tol Porong arah Sidoarjo

Truk Terguling, Lalu lintas Macet

Surabaya
Rabu, 25 November 2020
34o
Kurs