Selasa, 16 Agustus 2022
OPOP Jawa Timur

Pesantren At Tahdzib Jombang Bekerja pada Hakekatnya adalah Belajar

Laporan oleh Achmad Zainal Alim
Bagikan
Pesantren At Tahdzib membuat pakan ikan sendiri, terbukti jauh lebih murah namun hasil luar biasa. Foto: Dok. Suarasurabaya.net

Menekuni usaha di luar waktu belajar sejatinya menjadi kebiasaan para santri. Belajar dan bekerja adalah dua hal yang menjadi aktivitas rutin di lingkungan pesantren. Demikian yang terjadi di pondok Pesantren At Tahdzib Jombang.

“Saya kira masalah usaha apapun di pesantren itu adalah upaya yang tidak bisa dipisahkan, ini adalah peninggalan dari Bapak-bapak pendahulu. Santri itu kalau siang bekerja, kalau malam belajar,” ungkap KH Ahmad Masrukh, membuka perbincangan.

Benar apa yang disampaikan KH. Ahmad Masrukh, pengasuh Pesantren At Tahdzib Ngoro, Jombang. “Belajar wirausaha atau enterprenuer di pesantren, sudah dilakukan sejak lama. Santri belajar dan bekerja, kata Kyai Masrukh, punya multi tujuan.

Tujuannya; pertama, membantu orang tua santri yang tidak mampu. Kedua, namanya kerja, usaha itu termasuk pelajaran. “Kelihatannya nyari uang tapi hakekatnya belajar,”jelasnya.

Menekuni usaha di At Tadzib sudah dilakukan beberapa tahun lalu. Pesantren At Tadzib Ngoro Jombang mengajari santri berdagang, termasuk usaha ternak berbagai jenis ikan air tawar.

Berwira usaha di Pesantren At Tahdzib bukan tanpa kendala. Faktanya tidak semua santri piawai ngaji sekaligus jago berbisnis. Artinya, mencari santri yang mahir kedua-duanya bukan usaha sederhana. Kyai Masrukh juga bilang, modal juga jadi kendala dalam usaha.

KH. Ahmad Masrukh, pengasuh Pesantren At Tahdzib Ngoro, Jombang. Foto: Dok. Suarasurabaya.net

“Kendalanya usaha mesti modal,” tegasnya. Semoga uluran dari berbagai pihak, salah satunya melalui program OPOP Jatim ini, bisa menjadi solusi. Usaha ternak ikan di pesantren At Tahdzib, bukan sekedar coba-coba. Tapi apa yang sudah dirintis Kyak Masrukh cukup berhasil, dan diikuti banyak masyarakat di sekitar pesantren.

Tampaknya di daerah tersebut memang cocok untuk usaha perikanan. Bukan isapan jempol, pembibitan lele sudah pernah meraih predikan Juara Nasional. “Sekarang yang banyak diternak orang di sini Ikan Bawal, dulu Ikan Nila. Awal-awal dulu Saya yang mulai, dan ternyata hasilnya luar biasa. Dan sekarang sudah banyak orang yang meniru, sepanjang 3 kilometer itu banyak yang memelihara ikan,” kisahnya.

Bisnis ikan air tawar memang menjanjikan, karena pesantren At Tahdzib mampu membuat pakan ikan sendiri, yang terbukti jauh lebih murah namun hasil luar biasa. Ikan jadi lebih sehat dan bobotnya jauh lebih berat.

Sementara itu Catur Widiantoro pengurus Koperasi Pesantren At Tahdzib, menyatakan usaha yang dikelolanya, sebagian untuk memenuhi kebutuhan santri.

“Yang paling utama melengkapi kebutuhan santriwan dan santriwati. Ketika membutuhkan kebutuhan primer tidak perlu keluar dari pesantren. Dana yang kembali nanti juga akan kembali ke pesantren,” urainya.

Sebab itu prinsip yang diterapkan; Pembeli dari pesantren, Usahanya milik pesantren, dan Hasil akan kembali ke pesantren.

“Hasil yang diperoleh akan digunakan untuk menunjang kegiatan pesantren lainnya. Karena pembelajaran ini tidak ada di bangku pesantren atau sekolah, maka kegiatan usaha ini kelak bisa menjadi batu loncatan ketika santri kembali ke rumah,” tuturnya.(lim)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Langit Sore di Grand Pakuwon

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Surabaya
Selasa, 16 Agustus 2022
29o
Kurs