Selasa, 7 Desember 2021
OPOP Jawa Timur

Pesantren Darul Muttaqien Madiun Kelola Bisnis Libatkan Semua Unsur Santri

Laporan oleh Achmad Zainal Alim
Bagikan
Ragam jenis Madu menjadi produk unggulan Ponpes Darul Muttaqien, Madiun. Foto: Istimewa

Biaya kerap menjadi sandungan dalam beberapa aktivitas. Termasuk di lingkungan pesantren, tidak semua santri ketika belajar di Pondok Pesantren itu punya biaya untuk melalui masa pendidikannya.

Faktanya banyak juga yang hanya bermodalkan niat, ketika belajar ilmu agama di pondok pesantren. Demikian halnya di Pondok Pesantren Darul Muttaqien, Madiun.

Produk unggulan Darul Madu iniliah yang sukses bisa menopang biaya operasioanal santri ketika menimba ilmu. Seperti yang disampaikan Gus Nur Wahid, pengurus Ponpes Darul Muttaqien.

“Banyak santri yang dari rumah dimodali orang tua untuk menimbah ilmu. Tetapi tidak sedikit juga santri yang dari rumah memang niat untuk menimba ilmu tetapi terkendala di biaya. Sebab itu, Kami berinisiatif untuk mengelola semua usaha di pesantren dan pengelolanya semua dari unsur santri,” terang Gus Nur Wahid.

Menurutnya, hasil dari usaha pesantren ini sedikit-sedikit untuk membiayai kebutuhan sehari-hari santri. “Kami memang fokus laba usaha untuk kegiatan dan kebutuhan santri. Laba tidak dikembangkan lagi untuk menambah omset, tetapi dikembangkan untuk kegiatan pengembangan santri. Jadi untuk omset tidak ditambah, hasil yang diperoleh untuk kegiatan belajar dan mengajar,” jelasnya.

Gus Nur Wahid, pengurus Ponpes Darul Muttaqien, Madiun. Foto: Istimewa

Keunggulan produk Darul Madu ini, tanpa proses pengolahan dan murni tanpa campuran apapun.
Hal proses pengolahan madu, di Pesantren Darul Muttaqien ini memang menjual madu mentah. “Jadi tanpa proses apapun. Kami mendatangkan dari petani, dikirim ke pondok langsung dikemas dan kita pasarkan,” ungkapnya lagi.

Sementara untuk jenis-jenis madu, di sini ada banyak dan yang peminatnya banyak seperti Madu Hutan. “Kami ambil dari Teluk Kuantan dan Siak, Riau. Untuk yang madu murni, Kami ada peternakan di Pati, Jawa Tengah,” jelas Gus Nur Wahid kepada Suara Surabaya Media.

Berbisnis madu ini sama manisnya dengan rasanya, tapi bukan berarti semua manis tanpa tantangan.

“Tatangannya kompetitor yang semakin banyak, pemasaran kami dengan sistem jaringan dengan sitem silaturahmi. Jadi membuat tim agen dan reseller. Ketika kami akan menambah agen atau reseler, kami datangi dengan menjalin silaturahmi, dengan harapan ikatan menjadi semakin kuat, dan tidak mudah pindah ke kompetitor,” tukasnya.

Program OPOP Jatim ini juga diharapkan menjadi solusi usaha-usaha mandiri di pesantren. Seperti produk ragam jenis madu yang diproduksi Pesantren Darul Muttaqien. Ada madu Hutan Riau, Original, Murni, Klanceng, Hutan Pahit, Super. Sementara harga mulai dari Rp.30 rb, madu Murni kemasan 100 ml, hingga yang paling mahal Rp. 450 ribu, madu Klanceng kemasan 1Kg.(lim)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Selasa, 7 Desember 2021
29o
Kurs