Minggu, 5 Desember 2021
OPOP Jawa Timur

Pesantren Mambaul Ulum Bantur, Ilmu Usaha untuk Bekal Santri di Masyarakat

Laporan oleh Achmad Zainal Alim
Bagikan
Keripik Pisang dalam kemasan berlabel Raja, hasil upaya pesantren merubah singkong menjadi lebih digemari banyak orang. Foto: Istimewa

Hari mulai petang menyongsong adzan Maghrib, tim Suara Surabaya Media yang mengusung tugas dari OPOP Jatim mengunjungi tempat produksi aneka keripik yang dikelola pesantren. Lokasinya di sekitar pondok pesantren Mambaul Ulum, Bantur, Kabupaten Malang.

Menemui Mashudi, seorang pengelola usaha aneka keripik Raja. Aneka keripik dari bahan Singkong dan Pisang yang manis dan asin, juga ada Pisang Sale. “Usaha ini menjadi tempat belajar bagi para santri ponpes Mambaul Ulum. Belajar dan berusaha dengan segala perniknya,” terangnya.

Konon, pesantren Mambaul Ulum Bantur Kabupaten Malang pernah ditimpa krisis keuangan, sekira lima tahun lalu. Kemudian para pengelola dan santri pondok memilih untuk menjadi lebih kreatif. “Dengan potensi alam yang subur, seakan apapun yang ditanam pasti menghasilkan,” kata Ustadz Wawan Saiful Amin, pengajar di Pesantren Mambaul Ulum Bantur Malang, yang juga ditemui tim Suara Surabaya Media.

Pernah mengalami krisis ekonomi, kemudian pengasuh mempunyai inisiatif, untuk mengelola bahan yang sangat mudah dijumpai di sekitar daerah Bantur itu. Di daerah tersebut mempunyai komoditi andalan Singkong dan Talas. “Kemudian mereka berpikir bagaimana supaya kedua bahan tersebut bisa diolah menjadi makanan yang disukai lebih banyak orang,” ujar Ustadz Wawan.

Alhasil, lahirlah aneka keripik dengan label Raja, produksi pesantren Mambaul Ulum Bantur. Sekarang sudah menjangkau banyak wilayah di Malang Selatan dan sekitarnya.

Ustadz Wawan Saiful Amin, pengajar di Pesantren Mambaul Ulum, Bantur, Malang. Foto: Istimewa

“Kalau di Kecamatan Bantur itu ada 11 desa, dan semua sudah ada titik distribusi produk keripik Raja. Jaringan alumni juga menjadi jalur pemasaran, yaitu dengan menitipkan produknya ke warung-warung atau toko mereka. Untuk gerai-gerai yang lebih besar di beberapa daerah di Kabupaten Malang juga sudah tersedia,” tuturnya.

Apa yang dihasilkan sekarang bukan serta-merta, menurut Ustadz Wawan. Sejak kolaborasi dan mendapat dukungan dari Balai Latihan Kerja (BLK), perkembangan usahanya makin pesat.

“Dulu pondok bekerja sama dalam pengemasan dan pemasaran dengan BLK, sekira 2 tahun lalu. Dibantu dengan bintek, dan setelah dipraktekkan, Alhamdulilaah omset usaha kami mengalami kenaikan,” terangnya.

Pembuatan aneka keripik Singkong, Talas, Pisang, serta pembuatan Sale Pisang, punya sisi positif bagi para santri, sebagai bekal wirausaha ketika mereka lulus kelak.

“Kalau untuk anak-anak pondok pembelajaran ini untuk kehidupan mereka. Anak-anak di sini belajar mengaji, sekolah, dan mencari uang juga. Misalnya, Kami ajari bagaimana bercocok tanam. Alhamdulillaah, yang sudah lulus bisa mengembangkan usaha tersebut,” ungkapnya.

Kata Ustadz Wawan, sudah ada bekas santrinya yang mencoba dan berhasil. “Seperti membuat pupuk cair atau padat. Bahkan beberapa sudah ada yang membuat keripik Tahu dan keripik Jamur. Artinya, materi pelatihan yang diperoleh benar-benar diserap dan dipraktekkan setelah mereka lulus,” pungkasnya. (lim)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Minggu, 5 Desember 2021
30o
Kurs