Senin, 18 Oktober 2021

Embran Nawawi Sebut Bahan Tekstil Jadi Masalah Fesyen di Indonesia

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Embran Nawawi saat menilai sebuah karya fashion milenial (foto diambil sebelum pandemi Covid-19). Foto: Totok suarasurabaya.net

Embran Nawawi desainer nasional asal Surabaya menyebut bahan baku tekstil menjadi salah satu masalah perkembangan bisnis fesyen yang ada di Indonesia saat ini.

Menurutnya, saat ini para pegiat industri fesyen lokal masih kesulitan dalam mendapatkan bahan baku tekstil karena harus membeli secara impor.

Padahal, lanjut Embran, Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat konsumsi pakaian terbesar di dunia. Namun ia menyayangkan, produksi tekstil malah yang ada di dalam negeri malah lebih banyak diekspor untuk memenuhi kebutuhan di luar negeri.

Alhasil, bahan tekstil yang seharusnya mudah didapatkan di dalam negeri dengan harga yang lebih murah, masyarakat malah mendapatkannya dengan harga yang lebih mahal dengan jumlah terbatas.

“Kendalanya ada di tekstil. Kita tidak bisa membeli tekstil murah di negara sendiri. Akhirnya harus beli di luar dan itu dibatasi. Kalau semua (bahannya) 100 persen impor bagaimana?” ungkap Embran kepada Radio Suara Surabaya, Sabtu (18/9/2021).

Ia menyebut, Indonesia belum bisa memanfaatkan peluang yang ada, terlihat dengan kurangnya peningkatan produksi tekstil yang diperuntukkan untuk dalam negeri sendiri, seperti fesyen busana muslim yang mayoritas masih impor.

“Jadi produsen (fesyen muslim) terbesar masih China, India, Turki. Indonesia belum ada padahal Indonesia negara konsumsi terbesar dunia setelah Turki dan Uni Emirat Arab (UEA),” kata pria yang juga sebagai pengajar Fashion Enterprainer di Universitas Katolik Widya Mandala (UKWM) Kota Surabaya.

Masalah lain yang muncul dari industri fesyen yakni Indonesia yang kalah dalam selera dan tren fesyen, sehingga terlambat dalam merespon fesyen yang sedang tren di luar negeri.

Dalam hal ini, Embran menyebut Indonesia sebagai tail trend atau ekor tren. Dampaknya, industri fesyen tidak berperan besar dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

“Kita kalah di taste dan trend, bukan trendy. Kita ini followers. Jadi tren di luar terlambat masuk ke Indonesia dan itu nggak bisa mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata pencetus tema batik setiap tahunnya di East Java Fashion Harmony itu.

Ia berharap, agar pemerintah memperhatikan kebutuhan bahan baku tekstil bagi industri fesyen dalam negeri. Salah satunya dengan memberikan lebih banyak kuota produksi tekstil untuk Indonesia dibanding untuk kebutuhan ekspor.

“Mohon untuk tekstil ini agar dibantu, setidaknya membagi kuota produksi untuk Indonesia. Jadi misal satu meter kain di China Rp25 ribu, di sini setidaknya Rp27 ribu, jangan Rp50 ribu. Dengan begitu kita punya produk yang similar (sama),” harapnya.(tin/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Terguling di Lawang Malang

Truk Terguling Menimpa Taksi di Medaeng

Surabaya
Senin, 18 Oktober 2021
30o
Kurs