Jumat, 25 Juni 2021

Minyak Naik ke Harga Tertinggi Selama Dua Tahun Terakhir, Pasokan Iran Tak Akan Segera Kembali

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Ilustrasi, harga minyak dunia naik. Foto: Antara

Harga minyak naik di akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), menetap di level tertinggi selama lebih dari dua tahun terakhir setelah diplomat tinggi AS mengatakan, sekalipun Amerika Serikat mencapai kesepakatan nuklir dengan Iran, ratusan sanksi AS terhadap Teheran akan tetap berlaku. Itu bisa berarti pasokan minyak Iran tambahan tidak akan segera diperkenalkan kembali ke pasar.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Agustus terangkat 73 sen atau 1,0 persen, ditutup menjadi 72,22 dolar AS per barel (tertinggi sejak Mei 2019). Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik 82 sen atau 1,2 persen, menetap di angka 70,05 dolar AS per barel (tertinggi sejak Oktober 2018).

“Saya akan mengantisipasi bahwa sekalipun terjadi kembalinya kepatuhan terhadap JCPOA (Rencana Aksi Komprehensif Gabungan 2015), ratusan sanksi akan tetap berlaku, termasuk sanksi yang dijatuhkan oleh pemerintahan Trump,” kata Antony Blinken Menteri Luar Negeri AS, dikutip Reuters, dilansir Antara.

“Blinken melihat realitas situasi dan mengatakan bahkan jika kita mendapatkan kesepakatan, masih ada jalan panjang,” kata Phil Flynn Analis Senior di Price Futures Group di Chicago. “Semua orang yang mengharapkan banjir minyak akan kecewa.”

Amerika Serikat mengatakan kepada Iran, Selasa (8/6/2021) kemarin bahwa mereka harus membiarkan badan atom PBB terus memantau kegiatannya, seperti termuat dalam perjanjian yang diperpanjang hingga 24 Juni, atau menempatkan pembicaraan yang lebih luas tentang menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran dalam bahaya.

Hambatan untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran menjelang pembicaraan yang tetap akan dilanjutkan minggu ini antara Teheran dan kekuatan dunia. Empat diplomat, dua pejabat Iran, dan dua analis mengatakan itu kepada Reuters.

Minyak berjangka juga tertekan oleh data yang menunjukkan impor minyak mentah China anjlok 14,6 persen pada Mei dari setahun sebelumnya.

Harga minyak mentah telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir dengan Brent naik hampir 40 persen tahun ini dan WTI bahkan lebih tinggi karena ekspektasi permintaan yang kembali ketika beberapa negara memvaksin penduduk mereka. Selain itu, pengekangan pasokan oleh oOrganisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya juga menopang harga.

Produksi minyak mentah AS diperkirakan turun 230.000 barel per hari (bph) pada 2021 menjadi 11,08 juta barel per hari, kata Badan Informasi Energi AS (EIA), penurunan yang lebih kecil dari perkiraan bulan lalu.

Persediaan minyak mentah AS turun 2,1 juta barel pekan lalu. Dua sumber pasar mengatakan itu setelah penyelesaian perdagangan, mengutip angka American Petroleum Institute. Persediaan bensin naik 2 juta barel dan stok sulingan naik 3,8 juta barel.

“Lingkungan fundamental di pasar minyak tetap menguntungkan: permintaan bahan bakar pulih dengan kuat tidak hanya di Amerika Serikat, tetapi juga di Eropa setelah pencabutan pembatasan (sebagian),” kata Commerzbank.

Beberapa masih mempertanyakan lintasan pemulihan permintaan. Misalnya, beberapa orang meragukan Inggris, salah satu negara yang paling banyak divaksinasi di dunia, akan mencabut semua pembatasan seperti yang direncanakan sebelumnya pada 21 Juni.(ant/den)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran di Tanjungsari

Kemacetan di Tol Waru arah Dupak

Gerhana Bulan Total di Waru

Surabaya
Jumat, 25 Juni 2021
29o
Kurs