Sabtu, 25 Juni 2022
OPOP Jawa Timur

Pesantren An Nur 1 Malang Membentuk Santri Berwirausaha Lewat Toko dan Konveksi

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Santri menjahit di usaha konveksi Pesantren An Nur I Malang. Foto: Suara Surabaya

Hidup itu pilihan. Menjadi ahli agama sekaligus piawai berwirausaha kenapa tidak. Itu dilakukan sebagian santri Pesantren An Nur I di Bululawang, Kabupaten Malang. Dr. KH. Ahmad Fahrur Rozi, Pengasuh Pesantren An Nur I Malang selalu mendorong santri-santrinya menjadi pedagang atau pengusaha, mencontoh Nabiullah Muhammad SAW.

“Profesi nabi kita itu pedagang dan nabi mengatakan dalam perdagangan ada 90 persen rejeki. Maka kita mendorong santri menjadi pengusaha. Saya selalu bilang jadikan pegawai negeri itu pilihan terakhir. Jangan ingin jadi pegawai. Waktumu habis kerja pagi sore, pensiun kamu tidak ada guna,” kata Kiai Ahmad kepada Suara Surabaya.

Pesantren An Nur I Malang mendorong para santri menjadi pengusaha dengan membukakan mereka toko-toko di pasar untuk latihan. “Saya bilang ke mereka, kalau kamu buka toko sendiri kalau rugi kamu yang nanggung. Aku buka toko di pasar kalau rugi aku yang nanggung. Kamu jadi pinter, sudah pinter bisa pulang,” ujarnya.

Dr. KH. Ahmad Fahrur Rozi, Pengasuh Pesantren An Nur I Malang. Foto: Suara Surabaya

Semua santri Pesantren Annur 1 Bululawang Malang diajari kewirausahaan terutama sesudah mereka lulus Aliyah atau SMA.

“Yang bekerja itu yang sudah tamat Aliyah. Ada anak yang sudah tamat Aliyah tetap di sini. Saya bilang, kalau sudah tamat Aliyah, kamu pilih dua jalan. Apakah kamu mau sekolah, kuliah. Kalau kamu pintar dan mampu, kuliah. Kalau kamu pilih jalan kedua, bekerja. Kamu ikut orang yang sudah pinter, belajar. Bekerjalah untuk belajar. Saya selalu mengatakan jangan bekerja untuk uang. Itu kamu menjadi mental kuli. Kamu gak bisa kaya,” kata Kiai Ahmad.

Sementara Ustadz Nastainul Choiri, pengurus Pesantren An Nur I mengatakan, jurusan tata busana di SMK-nya jadi motor penggerak usaha konveksi An Nur.

“Kita pacu untuk segera jadi kewirausahaan, sehingga kita buka butik atau konveksi. Kita melayani berbagai macam pesanan seragam sekolah, seragam dinas. Kita juga melayani busana muslim yang agak mahal. Ini yang saat ini mulai kita pertajam. Di OPOP Jatim kita ikut pendaftaran merek, tapi kita tidak tahu lolos atau tidak,” tuturnya.

Selain mengandalkan siswa-siswi tata busana SMK, usaha konveksi Pesantren An Nur I intens melibatkan alumni. Kata Ustadz Nastain, yang jadi tantangan sekarang adalah para pemain besar dibidang konveksi.

“Pabrik besar itu jual seragam sangat murah di pasar. Sementara kita beli bahan tidak bisa dalam partai besar. Modal kita tidak banyak. Distribusi kita juga belum bisa mengalahkan mereka jadi kita belum bisa menjual dengan harga yang bersaing dengan mereka,” kata dia.

Soal pangsa pasar, konveksi Pesantren An Nur I, tidak perlu susah-susah. Jumlah santri sekitar 10 ribu saja sudah menjadi captive market tersendiri.(iss/lim)

Berita Terkait

Surabaya
Sabtu, 25 Juni 2022
24o
Kurs