Senin, 6 Desember 2021

Petani Makin Tak Berdaya, Minim Perhatian dan Sulit Keluar dari Jurang Kemiskinan

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Ilustrasi. Seorang petani saat berada di areal sawah di Surabaya. Foto: Dok. suarasurabaya.net

Kondisi petani Indonesia saat ini semakin tak berdaya dan tidak mendapatkan perhatian yang layak, khususnya dari pemerintah. Perjuangan yang sulit di masa tanam tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh saat musim panen. Tidak heran, jika sektor pertanian bukan sektor yang banyak diminati masyarakat karena kondisi petani yang lebih banyak terjebak dalam jurang kemiskinan.

Hal itu disampaikan oleh Jumantoro Ketua Asosiasi Petani Pangan Indonesia (APPI) Jawa Timur kepada Radio Suara Surabaya, tepat pada peringatan Hari Pangan Sedunia atau World Food Day 2021 yang dirayakan setiap 16 Oktober.

Ia bercerita, saat musim tanam, petani harus berjuang menghadapi banyak tantangan. Di tengah cuaca ekstrem, petani harus berjuang menghadapi organisme pengganggu tanaman dan hama yang merajalela. Di musim tanam, pupuk dan bibit sulit didapatkan. Harga pupuk subsidi pun terus naik setiap tahun. Jika pun petani menggunakan pupuk non subsidi, disparitas harganya masih terlalu jauh.

Karena mahalnya harga pupuk, akhirnya beredar pupuk abal-abal dengan kualitas yang rendah yang merugikan petani. Pupuk abal-abal hanya akan membuat hasil pertanian tidak sesuai harapan dan yang akhirnya mengakibatkan nilai jual yang rendah.

Persoalan-persoalan yang dihadapi petani tak berhenti di sana. Setelah beragam kesulitan di masa tanam, setibanya musim panen, petani harus gigit jari karena anjloknya harga. Alhasil, mereka tak banyak mendapatkan keuntungan, bahkan lebih banyak yang mendulang kerugian.

Jumantoro berharap, adanya kehadiran dan kepedulian pemerintah terhadap nasib petani saat ini. Ia mengatakan, para petani tidak meminta lebih. Mereka hanya hanya ingin pemerintah menjamin ketersediaan pupuk saat musim tanam, meski petani harus mendapatkannya dengan harga lebih mahal. Yang penting, pemerintah menjamin ketersediaan pupuk untuk mereka.

Selain itu, petani juga berharap agar pemerintah dapat memastikan harga dan memberikan pangsa pasar yang jelas, agar petani tidak terus merugi saat musim panen tiba.

“Jadi bagaimana pemerintah memperdayakan petani, jangan petani digunakan untuk kepentingan politis saja. Contohnya bagaimana ada jaminan harga yang pasti untuk produksi pangan agar petani ini untung bukan buntung. Jangan sampai mau bertani saja pupuk subsidi sulit, harganya naik terus, tapi untungnya turun terus,” keluh Jumantoro pada Sabtu (16/10/2021).

Kondisi sulit ini akhirnya membuat banyak petani yang terlilit utang. Sehingga, keuntungan hasil panen tidak bisa dirasakan karena untuk hasil panen hanya membayar utang selama musim tanam.

Jumantoro mengatakan, kondisi tersebut hampir merata dialami petani di Jawa Timur di semua daerah.

“Kondisi ekonomi petani kita dikejar-kejar utang. Asosiasi mendapatkan, semua daerah sama masalahnya,” imbuhnya.

Kurangnya perhatian dari pemerintah dan sektor pertanian yang tidak menjanjikan, menjadian bertani menjadi pilihan terakhir bagi masyarakat. Akhirnya, minat masyarakat untuk terjun di sektor pertanian semakin rendah, terlebih anak muda.

“Petani kita SDM-nya menengah ke bawah karena pertanian opsi terakhir saat tidak punya pekerjaan, Bukan tidak mungkin 5-10 tahun bukan kedaulatan pangan yang kita dapatkan, tapi kehancuran pangan,” tegasnya.

Beberapa waktu yang lalu, pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) meluncurkan program Petani Milenial untuk mengembalikan minat generasi muda untuk bertani. Jumantoro berharap agar program tersebut terus dikawal agar tidak hanya menjadi program saja.

Hal senada juga diungkapkan Dr Ir David Hermawan, MP, IPM Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Ilmu Pertanian Indonesia (APTSIPI). Menurutnya, program Petani Milenial tak hanya berfokus pada target usia petani yang menjadi lebih muda saja, namun juga disertai dengan penyediaan infrastruktur pertanian dan kebijakan yang berpihak pada petani.

“Petani Indonesia hanya didominasi orang-orang tua saja. Kebanyakan usianya 45 tahun ke atas. Pemerintah sedang membuat Petani Milenial, milenial yang bagaimana saya tidak paham. Pemerintah hanya melihat dari sisi umur. Padahal di tempat lain tidak seperti itu,” ujarnya.

Ia juga menyoroti alasan mengapa kemajuan pertanian di Indonesia begitu lambat, dibanding negara-negara lain di Asia seperti Korea, Jepang hingga Thailand. Salah satu penyebabnya adalah teknologi pertanian yang masih tradisional.

“Sektor pertanian masih tradisional, belum ada teknologi yang baik untuk akselerasi pertumbuhan produksi kualitas maupun kuantitas. Teknologi tradisional, support minim, maka sektor pertanian bukan sesuatu yang menarik di Indonesia,” papar David.

David menambahkan, kondisi pertanian Indonesia sudah dalam tahap mengkhawatirkan karena jumlah impor pangan di Indonesia masih tinggi. Padahal Indonesia termasuk negara yang memiliki lahan yang luas. Menurutnya, harus ada kebijakan untuk mengatur penggunaan lahan pertanian di Indonesia agar tidak terus tergerus oleh pemukiman dan industri.

“Bangsa yang mandiri apabila mampu menyediakan pangannya sendiri. Kalau tidak mandiri, akan mudah dikuasai negara lain. Ini lah alasan mengapa Hari Pangan Sedunia digelar, untuk mengingatkan kita betapa pentingnya pangan,” ujarnya.(tin/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Senin, 6 Desember 2021
26o
Kurs