Rabu, 10 Agustus 2022

Dicecar Panja, Pakar ITB Jelaskan GOTO mampu Buyback Tanpa Uang dari Telkomsel

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan
Dina Dellyana Assistant Professor Entrepreneurship and Technology Management Interest Group, Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB). Foto: sbm.itb.ac.id

Panitia Kerja (Panja) Komisi VI DPR RI terkait investasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di perusahaan digital kembali bergulir.

Dalam rapat yang berlangsung di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (29/6/2022), Panja Komisi VI mengundang Dina Dellyana Assistant Professor Entrepreneurship and Technology Management Interest Group, Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), serta Edwin Sebayang Kepala Riset MNC Securities.

Dalam sesi tanya jawab, sejumlah anggota Panja mencecar dua narasumber terkait duit investasi Telkomsel yang digunakan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) untuk melakukan pembelian kembali (buyback) saham milik investor lama.

Anggota Panja menilai, kinerja GOTO masih merugi sehingga tidak mungkin mampu buyback.

“Dari pemaparan pakar sebelumnya, kami mendapatkan penjelasan duit Telkomsel digunakan untuk buyback. Tanpa investasi Telkomsel, maka tidak akan ada merger dan buyback. Bagaimana tanggapan Anda?” kata Khilmi Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra.

Merespons pertanyaan itu, Dina Dellyana mengatakan cara pandang seperti itu keliru. Menurutnya, GOTO tetap mampu melakukan buyback menggunakan uang sendiri (self financing), tanpa menggunakan dana investasi dari Telkomsel.

“Cara mengujinya sangat gampang. Bapak dan Ibu bisa melihat data laporan keuangan GOTO mau pun prospektus saat mereka IPO. Di situ terlihat jelas kemampuan keuangan mereka,” ucap Dina menjawab pertanyaan Panja.

Dia menyebut, Telkomsel investasi Rp2,1 triliun pada November 2020. Waktu itu posisi kas GOTO pada akhir 2020 adalah senilai Rp15,3 triliun.

“Dengan masuknya investasi pertama Telkomsel Rp 2,1 T pada November 2020 tersebut, investasi Telkomsel tersebut cuma menyumbang 13,7 persen terhadap total kas GOTO. Kasarnya, arus kas GOTO sangat kuat bahkan tanpa ada investasi dari Telkomsel,” paparnya.

Berdasarkan catatan media terkait proses investasi Telkomsel ke GOTO, Dina menyebut ada beberapa fakta penting yang patut digarisbawahi.

Informasi itu bersumber dari penjelasan Direksi GOTO sebelumnya dan mengutip data data dari laporan keuangan serta prospektus.

Salah satunya terkait kondisi keuangan GOTO saat melakukan buyback.

Sesuai data publik, Telkomsel exercise opsi membeli saham di Mei 2021 senilai USD300 juta. Sehingga, total investasi Telkomsel di GOTO menjadi Rp 6,4 triliun.

Kemudian buyback saham GOTO terjadi di akhir tahun 2021. Jaraknya cukup lama dari masuknya investasi Telkomsel pada bulan Mei 2021.

Selain itu, soal pre-IPO fundraising GOTO. Berdasarkan data publik, sebelum melakukan buyback, GOTO telah melakukan pre IPO fundraising pada Juli-November 2021, dan berhasil mengumpulkan dana lebih dari USD1,3 miliar.

Sementara, mengacu pada laporan keuangan GOTO, posisi kas dan setara kas GOTO adalah Rp17,9 triliun pada September 2021 atau 2,7 kali dari investasi Telkomsel.

“Pada Desember 2021, kas GOTO mencapai Rp 31,1 triliun atau 4,85 kali dari total investasi Telkomsel. Nah, dalam melakukan buyback, total dana yang digunakan hanya Rp1,7 Triliun,” tegasnya.(rid/rst)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Kecelakaan Truk Terguling di KM 750 Tol Waru

Surabaya
Rabu, 10 Agustus 2022
25o
Kurs