Senin, 30 Januari 2023

Menkeu Ajak Seluruh Profesi Keuangan Jaga Sektor Keuangan dengan Sikap Waspada dan Profesional

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Sri Mulyani Indrawati Menkeu saat memberi sambutan dalam Profesi Keuangan Expo (PKE) 2022. Foto: tangkapan layar

Kementerian Keuangan selaku Pembina Profesi Keuangan terus mendorong akselerasi peran profesi keuangan dalam pertumbuhan ekonomi.

Satu di antara caranya melalui penyelenggaraan hybrid expo yang bertujuan untuk mendekatkan profesi keuangan kepada para pemangku kepentingan dan masyarakat umum (pelaku usaha, pengguna jasa profesi keuangan, instansi pemerintah pusat/daerah, akademisi, dan mahasiswa).

Sri Mulyani Indrawati Menteri Keuangan RI mengatakan, Profesi Keuangan Expo (PKE) 2022 kali ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Oeang Republik Indonesia (HORI) yang diselenggarakan dari tanggal 10-14 Oktober 2022 dengan melibatkan kolaborasi dan sinergi dari 13 Asosiasi Profesi Keuangan. Adapun tema besar PKE 2022 yaitu “Penguatan Ekonomi Digital dan Berkelanjutan: Bagaimana Profesi Keuangan Merespons dan Berperan?”

Kata Menkeu, tema tahun ke-4 kali ini dipilih untuk menegaskan kembali berbagai dukungan pemerintah pada masa pandemi Covid-19, sekarang mulai menunjukkan hasil positif. Berbagai keterbatasan selama pandemi telah mengakselerasi laju transformasi ekonomi digital.

“Pandemi juga telah mengajarkan kita untuk melakukan tindakan preventif terhadap ancaman dampak negatif perubahan iklim melalui penggiatan ekonomi hijau/berkelanjutan. Selain itu, tema PKE 2022 juga sejalan dengan dua agenda prioritas Presidensi G20, yaitu transformasi digital dan transisi energi berkelanjutan,” ujar Sri Mulyani dalam sambutannya secara daring, Senin (10/10/2022).

Sekadar diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2022 mampu tumbuh kuat di angka 5,44% (yoy). Ini merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa ditengah kontraksi ekonomi yang terjadi di beberapa negara lainnya. Efek positif pertumbuhan ekonomi saat ini tentunya tidak terlepas dari kerja keras pemerintah dan seluruh stakeholders, termasuk profesi keuangan.

“Menjaga ekonomi Indonesia tidak mudah, untuk itu saya mengajak seluruh profesi keuangan untuk ikut sama-sama menjaga sektor keuangan dengan bersikap waspada dan profesional. Perkembangan dunia yang akan sangat bergejolak atau volatile tentu perlu kita waspadai, namun tidak berarti kita gentar,” kata Menkeu.

Lebih lanjut, Sri Mulyani memaparkan bahwa ekonomi digital merupakan satu di antara pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang telah berkembang sangat pesat.

Nilai ekonomi digital Indonesia pada tahun 2021 merupakan nilai tertinggi di Asia Tenggara, yakni sebesar US$70 miliar dan diperkirakan mampu mencapai US$146 miliar pada tahun 2025. Selain itu, 40% pangsa pasar ekonomi digital Asia Tenggara ada di Indonesia. Pengembangan ekonomi digital dengan melibatkan potensi penduduk usia produktif Indonesia menjadi peluang dan kunci percepatan pemulihan dan peningkatan daya tahan ekonomi nasional secara berkelanjutan.

Selain mendukung kemajuan ekonomi digital, Menkeu juga mengingatkan pentingnya membangun kesadaran tentang pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Pembangunan ekonomi yang berkelanjutan telah dan sedang terus diupayakan oleh negara di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. The 17 Sustainable Development Goals yang digagas oleh PBB di tahun 2015 sebagai perwujudan dari komitmen terhadap sustainability secara ringkas terbagi menjadi tiga pilar. Ketiganya diupayakan untuk terintegrasi dalam setiap kebijakan yang diambil oleh negara, yaitu pilar sosial, pilar lingkungan, dan pilar ekonomi.

Menurut dia, perkembangan ekonomi digital dan ekonomi berkelanjutan merupakan suatu hal yang harus disambut dengan tangan terbuka dan diharapkan dapat meningkatkan perekonomian secara menyeluruh.

Kementerian Keuangan memiliki target agar Indonesia dapat menjadi negara high income di tahun 2045. Satu di antara upaya mewujudkan hal tersebut, pemerintah bersama DPR RI menyusun Rancangan Undang-Undang terkait Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (RUU P2SK).

Pengembangan dan penguatan sektor keuangan melalui RUU P2SK tersebut diharapkan dapat menghasilkan sektor keuangan yang dalam, inovatif dan efisien, inklusif dan dapat dipercaya serta lebih kuat dan stabil.

“Sebagai profesional di bidang keuangan yang berubah sangat banyak, maka Anda perlu terus membekali diri dengan pengetahuan dan ilmu yang terus berubah, terutama akibat perubahan di sektor keuangan sendiri, teknologi digital, maupun tantangan baru seperti climate change,” pesan Sri Mulyani.

Tidak hanya itu, Menkeu juga mengingatkan bahwa di masa yang akan datang profesi keuangan akan memegang peranan yang makin penting dan strategis dalam pereknomian Indonesia.

Di era digital sektor keuangan juga akan mengalami perubahan termasuk praktek-praktek kegiatan yang makin tanpa batas atau borderless. Kebutuhan akan informasi keuangan yang kredibel dan memiliki jaminan akurasi sangat penting bagi Investor dan stakeholder.

“Maka dari itu, peran profesi keuangan menjadi penting sebagai tiang penyangga kredibilitas dan keakuratan dalam membuat keputusan baik dalam perusahaan atau sektor keuangan,” jelasnya.

Kementerian Keuangan akan selalu mendorong agar profesi keuangan terus berkembang. Menkeu berharap ke depan akan semakin banyak generasi muda yang menekuni bidang sektor keuangan dengan sofistikasi yang makin tinggi, dengan tetap memegang teguh integritas dan profesionalisme.

Melalui PKE 2022 diharapkan menjadi jembatan mendekatkan profesi keuangan binaan Kementerian Keuangan kepada publik sehingga akan terjalin komunikasi antara praktisi dan calon pengguna jasa.

“Profesi keuangan juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan pemberian jasa, meningkatkan sinergi dan kualitas koordinasi antarorganisasi profesi keuangan, praktisi, serta regulator, dan berperan aktif dalam pertumbuhan ekonomi digital dan berkelanjutan,” pungkas Menkeu.(faz/rst)

Berita Terkait