Kamis, 2 Februari 2023

Pakar: Dampak Investasi di Presidensi Indonesia G20 Tidak Bisa Instan

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
Jokowi Presiden RI menyerahkan palu simbol kepemimpinan G20 kepada Narendra Modi PM India, dalam sesi penutupan KTT G20, di Nusa Dua, Bali, Rabu (16/11/2022). Foto: Biro Pers Setpres

Presidensi G20 telah sukses diselenggarakan pekan lalu di Bali. Forum itu sukses mendatangkan puluhan pemimpin negara besar dunia di antaranya Joe Biden Presiden Amerika Serikat, Xi Jinping Presiden China, Yoon Suk-yeol Presiden Korea Selatan, hingga Sergei Lavrov Menteri Luar Negeri Rusia.

Dalam acara yang terselenggara pada 15-16 November itu, menurut Radityo Dharmaputra Pakar Hubungan Internasional Universitas Airlangga, Indonesia merupakan negara berkembang, namun sudah dipercaya menjadi tuan rumah G20. Hal itu dikarenakan Indonesia memiliki potensi besar dan secara politik punya pengaruh yang besar pula.

Masuknya Indonesia di kelompok elit tersebut, kata Radityo, juga mengorbankan beberapa hal yang terjadi di negara ini. Melihat anggaran dari G20 yang tidak sedikit, ditambah saat ini Indonesia tengah bangkit dari pandemi Covid-19.

“Memang tergabungnya Indonesia di forum G20 menciptakan iklim investasi yang baik. Namun, dampak yang dirasa tidak langsung instan, menunggu proyeksi beberapa tahun ke depan,” ucapnya dalam keterangan yang diterima suarasurabaya.net, Sabtu (26/11/2022).

Ia juga menyinggung terkait isu perdamaian Rusia-Ukraina yang diusung dalam forum ini, meski fokus pembahasan G20 adalah ekonomi. Ini karena belum ada kekuatan dan komitmen antarsekretariat untuk mengikat anggotanya, sehingga negara anggota G20 sulit mengupayakan.

Demi mencapai itu, Indonesia kemudian mengundang Volodymyr Zelensky presiden Ukraina yang notabene bukan anggota G20.

Namun akhirnya baik presiden Ukraina maupun Vladimir Putin presiden Rusia yang juga anggota G20 absen hadir. Sehingga menurut Radityo, meski belum bisa melaksanakan misi perdamaian itu, ketidakhadiran Putin justru tidak merugikan Indonesia sebagai tuan rumah. Forum tersebut tidak perlu merasakan situasi tidak enak yang dirasakan Putin saat melakukan agresi pada negara Ukraina. Ditambah, dari beberapa presiden yang tidak sepakat akan kebijakan Putin menginvasi Ukraina. Hal ini mempermudah pengaturan acara tanpa terjadi konflik.

“Saya salah satu orang yang skeptis dari awal. Tidak mungkin perdamaian Rusia-Ukraina tercapai dari G20 saja,” tutur Radityo.

Meski demikian, ide baru Jokowi yang berusaha menjadi jembatan perdamaian antara Rusia-Ukraina patut dihargai. Menurut Radityo, forum G20 dapat menjadi jalan pembuka Indonesia yang dipercaya sebagai tuan rumah dan menghasilkan investasi baru untuk pembangunan berkelanjutan.(dfn/ipg)

Berita Terkait