Senin, 23 Mei 2022

Tips Agar Uang Tidak Boros Lalu Menyesal Saat Dapat Rezeki Nomplok

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Ilustrasi.

Beberapa waktu lalu, publik sempat dihebohkan dengan warga sejumlah desa di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, yang serempak membeli mobil baru. Ratusan warga tersebut menjadi miliader setelah menjual tanahnya kepada PT Pertamina, mulai dari Rp8 miliar hingga yang tertinggi Rp28 miliar.

Namun akhir-akhir ini, beberapa warga mengaku menyesal menjual lahannya. Imbasnya, mereka kesulitan mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bagaimana tidak, lahan yang mereka jual kebanyakan adalah sumber mata pencarian. Sedangkan uang yang mereka terima dari perusahaan sudah habis.

Dwi Wulandari Regional Chief Economist sekaligus financial planner, membagikan tips dan trik mengatur keuangan saat mendapat rezeki nomplok.

Ia menekankan, saat mendapat rezeki nomplok secara tiba-tiba, terkadang hal itu bisa membuat penerimanya ‘silau’ sehingga lupa untuk menyisihkan sebagian untuk investasi dan hanya habis untuk konsumsi.

Wulan menjelaskan, ada beberapa urutan yang bisa dilakukan.

Pertama, sisihkan minimal 2,5 persen untuk sosial atau sedekah. Kedua, jika memiliki utang, hendaknya gunakan uang tersebut untuk menutup utang terlebih dahulu. Ketiga, anggarkan sebagian besar uang untuk investasi. Sisanya, baru anggarkan uang tersebut untuk konsumsi sehari-hari.

“Jangan lupa 2,5 persen untuk sosial biar berkah. Sisanya untuk menabung dan investasi, baru konsumsi di belakangnya lagi (sesudahnya). Aturannya begitu, cuma kadang kita itu kemrungsung (tergesa-gesa, panik),” jelas Wulan kepada Radio Suara Surabaya, Jumat (28/1/2022).

Ia menjelaskan, terkadang seseorang terjebak dalam tiga pola pikir yang salah. Pertama, menganggap dengan membuka bisnis, maka itu bisa membuat uang dapat berputar dan tidak habis. Padahal, ia sendiri belum pernah memiliki pengalaman usaha.

“Mindset ‘daripada habis, mending bikin usaha‘. Padahal belum pernah belajar sama sekali tentang bagaimana cara berbisnis,” ujarnya.

Kedua, menganggap bahwa menikmati uang yang diterima adalah sah-sah saja tanpa memikirkan efek jangka panjang.

“Pemikiran ‘masak duit banyak nggak dinikmati? kapan lagi?‘. Biasanya apa kata tetangga, masak duit banyak hidup gitu-gitu saja,” tambahnya.

Ketiga, salah melakukan investasi dan malah uang habis karena terjebak investasi bodong.

“Kadang habis itu, ada saja yang menawari macam-macam dan kena investasi bodong. Sudah salah bikin usaha, kena investasi bodong juga. Itu yang saya amati banyak terjadi,” ucapnya.

Untuk itu, Wulan menyarankan saat seseorang mendapat rezeki nomplok, mereka bisa mendatangi financial planner untuk mendapatkan perencanaan keuangan yang tepat.

Selama ini, banyak anggapan jasa konsultasi financial planner itu mahal. Padahal menurutnya, konsultasi menjadi keputusan yang bijak saat seseorang belum memiliki pengalaman dalam mengelola uang dalam jumlah banyak.

“Contoh, punya Rp8 miliar displit ke instrumen aman seperti beli surat utang negara atau obligasi. Atau dipisah, satunya obligasi, satunya reksana. Sisanya 10 persen untuk konsumsi misal beli mobil yang mana itu nilainya sudah sangat besar,” ujarnya.

Selain itu, penting juga untuk menjaga gaya hidup agar tidak boros. Misalnya, jika ingin membeli mobil, harus diperhitungkan betul berapa pendapatan per bulan yang ia terima, dan berasa sisa keuangan yang dikeluarkan untuk konsumsi sehari-hari.

“Misal Rp5 juta per bulan untuk kebutuhan sehari-hari, keutungan dari obligasi Rp40 juta. Rp35 juta ditabung 10 bulan untuk beli mobil. Pelan-pelan saja,” kata Wulan.

Dalam berinvestasi, juga perlu untuk diketahui apakah investasi yang dilakukan termasuk investasi jangka pendek, jangka menengah atau jangka panjang.

Misalnya, uang untuk investasi jangka panjang seperti membeli properti. Investasi jangka menengah dengan membeli obligasi. Investasi jangka pendek dengan reksadana pasar uang dan deposito.

“Kalau sudah displit nggak akan uangnya habis begitu saja. Bahkan bisa kita memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan keuntungan investasi tanpa uang kita berkurang,” jelas Wulan.(tin/ipg)

Berita Terkait

Surabaya
Senin, 23 Mei 2022
29o
Kurs