Minggu, 3 Maret 2024

Teknologi Tepat Guna TEKAD Bebaskan Ketergantungan Warga dari Pengepul Pakan Ternak

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Rumah Inovasi Teknologi Desa (RITD) yang mampu menciptakan teknologi tepat guna sesuai kebutuhan warga di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Foto : istimewa

Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) terus berkomitmen meningkatkan kesejahteraan dan taraf ekonomi masyarakat sasaran. Salah satunya dengan Rumah Inovasi Teknologi Desa (RITD) yang mampu menciptakan teknologi tepat guna sesuai kebutuhan warga.

TEKAD merupakan program kolaborasi antara Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) dengan International Fund for Agriculture Development (IFAD) dengan jangka waktu 2020-2025.

RITD di Desa Genamere, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur misalnya berhasil mendorong warga menciptakan alternatif pakan ternak babi dari jagung. Keberhasilan ini membuat kebutuhan pakan babi bisa terpenuhi tanpa sepenuhnya tergantung kepada pengepul. Warga Genemere pun kini bisa mengelola secara mandiri pakan ternak dari hulu ke hilir.

“Program RITD dari TEKAD benar-benar kami manfaatkan untuk mengatasi keterbatasan pakan ternak di Desa Genamere dan desa-desa sekitar. Puji Tuhan kebutuhan pakan ternak kami pun saat ini bisa kami atasi secara mandiri,” tegas Gabriel Ngolok, Sekretaris Desa Genamere, Kabupaten Ngada, Sabtu (8/12/2023).

Gabriel menjelaskan mayoritas masyarakat Genamere berprofesi sebagai petani jagung dan peternak babi. Pada beberapa musim terakhir, mereka mengalami kesulitan pakan ternak karena mahal dan tidak stabilnya pasokan.

“Kami biasanya mendapatkan pakan babi dari pengepul. Harganya mahal dan tidak selalu ada. Akibatnya ternak kami tidak bisa berkembang secara optimal,” katanya.

Dia mengakui selama ini warga Desa Genamere menerapkan pola berternak tradisional. Mereka memberi makan hewan ternaknya dengan rebusan singkong, talas dan jagung. Terkadang mereka juga terpaksa memberi makan babi dengan rumput, kacang-kacangan dan buah alakadarnya jika kehabisan pakan.

“Warga tidak pernah mempertimbangkan nilai gizi yang dibutuhkan babi. Yang penting babinya hidup, bisa dijual. Kalo lagi tidak ada talas, singkong dan jagung, kita cari kacang-kacangan yang dicampur dengan rumput. Babi ini kan pemakan segalanya. Semua masuk,” tuturnya.

Subastianus Ruso Wakil Ketua KPB (Kelompok Penerima Bantuan) Samowara mengungkapkan Program RITD dari TEKAD membuka lembaran baru bagi peternakan babi di Desa Genemare.

Dengan program ini, warga bisa mengelola jagung yang menjadi tanaman utama di wilayah tersebut menjadi pakan ternak. Saat ini, sudah ada 80 hektar lahan di Desa Genamere yang ditanami jagung, dan proyeksi untuk tahun 2024 mencapai 130 hektar.

“Bantuan Program RITD juga dimanfaatkan membeli hasil panen jagung dari masyarakat setempat dengan harga lebih tinggi, mencapai Rp6.000/Kg. Dengan demikian, ketergantungan pada pengepul akan berkurang, dan masyarakat Genamere dapat mengelola produksi pakan ternak secara mandiri,”katanya.

Selain untuk membeli hasil panen, bantuan RITD juga digunakan untuk membeli empat mesin pengolahan pakan ternak dengan kapasitas produksi sebanyak 500 Kg jagung per operasi. Untuk menunjang operasional, masyarakat pun dengan antusias membangun secara swadaya gudang operasional produksi pakan ternak tersebut.

“Kami optimistis hasil produksi pakan ternak akan mencukupi kebutuhan pakan desa Genamere dan desa-desa sekitarnya,” pungkasnya.(faz/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Pagi-Pagi Terjebak Macet di Simpang PBI

Kecelakaan Truk Box dan Motor di Sukorejo Pasuruan

Tetap Nyoblos Meski TPSnya Banjir

Surabaya
Minggu, 3 Maret 2024
26o
Kurs