Jumat, 14 Juni 2024

Legislator Yakin Ekonomi Indonesia Kuat Menghadapi Gejolak Imbas Perang di Timur Tengah

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan

Puteri Anetta Komarudin Anggota Komisi XI DPR RI menilai saat ini kondisi fundamental ekonomi Indonesia kuat dan tangguh dalam menghadapi gejolak geopolitik global yang terjadi di Timur Tengah.

“Kondisi geopolitik terutama di wilayah Timur Tengah imbas adanya perang, bakal berpengaruh terhadap kondisi ekonomi global termasuk Indonesia. Terkait hal itu, saat ini kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan tangguh,” ujarnya di Jakarta, Senin (22/4/2024).

Berdasarkan data yang dipegang Puteri, saat ini pertumbuhan ekonomi 2024 diperkirakan masih di atas 5 persen (year on year/yoy), di atas pertumbuhan ekonomi global 3,2 persen (yoy).

Selain itu, inflasi juga masih terkendali pada angka 3,05 persen pada Maret 2024.

Kemudian, posisi cadangan devisa juga masih mencapai 140,4 miliar Dollar AS pada bulan sebelumnya. Bahkan surplus neraca perdagangan Indonesia berlanjut pada Februari 2024 sebanyak 0,87 miliar Dollar AS.

“Indikator-indikator itu menjadi bekal untuk tetap yakin dan optimistis ekonomi Indonesia masih tetap kuat di tengah risiko konflik Timur Tengah,” kata legislator dari Fraksi Partai Golkar itu.

Walau begitu, Puteri tetap mengingatkan hal-hal yang patut diwaspadai dari adanya ketegangan di wilayah Timur Tengah. Dia menyebut ada potensi disrupsi pada suplai logistik di Selat Hormuz dan Laut Merah.

Apalagi, selat tersebut berperan penting terhadap 30 persen jalur perdagangan minyak dunia. Di Selat Hormuz terdapat 33 ribu kapal minyak dan Laut Merah sekitar 27 ribu kapal.

Adanya hambatan itu diprediksi akan berdampak pada kenaikan harga minyak mentah dunia yang bisa juga bisa berimbas terhadap harga BBM dalam negeri.

Menurut Puteri, pemerintah sudah menegaskan harga BBM tidak akan naik hingga Juni 2024. Sehingga, hal itu menjadi wujud keberpihakan APBN melalui subsidi BBM untuk melindungi daya beli masyarakat.

“Ke depan, kami terus dorong pemerintah untuk memantau harga minyak dunia serta menyiapkan berbagai upaya untuk memitigasi segala potensi risiko dampak yang akan muncul,” ucap anggota dewan daerah pemilihan Jawa Barat VII itu.

Lebih lanjut, Puteri menyampaikan potensi dampak pada sektor keuangan juga perlu diantisipasi. Dollar index yang mengalami penguatan berpotensi memberikan tekanan pada nilai tukar Rupiah.

Bagi sektor riil, dampak depresiasi nilai tukar akan sangat berpengaruh terhadap impor.

Untuk itu, Puteri mendorong Bank Indonesia bersama pemerintah untuk terus berada di pasar guna melakukan intervensi untuk stabilisasi nilai tukar Rupiah.

Di antara banyaknya prediksi yang beredar, Puteri meminta masyarakat untuk tenang dan tidak memicu kepanikan di pasar.

“DPR akan terus mengimbau pemerintah dan otoritas terkait guna memantau situasi terkini serta menyiapkan upaya mitigasi risiko sehingga ketegangan ini tidak menimbulkan dampak yang dalam bagi masyarakat,” tegasnya.

Lebih lanjut, Puteri meminta masyarakat ikut berpartisipasi mengurangi impor terutama yang bersifat konsumtif. Hal itu perlu menjadi perhatian lantaran dikhawatirkan bisa menimbulkan tekanan terhadap nilai tukar Rupiah.

“Sebaiknya kita tetap memprioritaskan belanja pada produk UMKM lokal. Lantaran, UMKM menjadi penopang utama perekonomian kita,” tutup Puteri.(rid)

Berita Terkait

..
Surabaya
Jumat, 14 Juni 2024
28o
Kurs