“Amerika Serikat dan Iran sama-sama menuntut kompensasi atas serangan militer baru-baru ini, sehingga memupus harapan bahwa kedua pihak sudah mendekati kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz,” ujar Ibrahim dilansir dari Antara.
Klaim mengenai kondisi Selat Hormuz juga masih berseberangan. Amerika Serikat menyatakan jalur perairan tersebut tetap terbuka, sedangkan Iran mengklaim telah menutupnya dengan menggunakan ranjau dan pesawat nirawak atau drone.
Tekanan terhadap rupiah turut dipengaruhi kekhawatiran mengenai pasokan energi global. Serangan kelompok Houthi di Yaman terhadap kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco menambah risiko terhadap infrastruktur energi di kawasan tersebut.
Ibrahim mengatakan Houthi juga mengancam membuka front baru dalam konflik dengan menyerang kapal dan infrastruktur minyak di kawasan Laut Merah.
“Kelompok Houthi mengancam akan membuka front baru dalam konflik yang melibatkan Iran dengan cara menyerang kapal serta infrastruktur minyak di Laut Merah. Langkah ini meningkatkan kecemasan akan gangguan pasokan dan semakin mendorong kenaikan harga minyak mentah,” katanya.








