Selasa, 11 Agustus 2026

Rupiah Melemah ke Rp17.861 per Dolar AS, Pasar Cermati Konflik AS-Iran

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi - Kurs rupiah melemah. Foto: suarasurabaya.net

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Selasa (11/8/2026).

Rupiah tertekan oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik terkait konflik AS-Iran dan prospek pembukaan kembali Selat Hormuz.

Rupiah turun 106 poin atau 0,60 persen menjadi Rp17.861 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup di level Rp17.755 per dolar AS.

Ibrahim Assuaibi analis pasar uang mengatakan, ketegangan antara Washington dan Teheran kembali menjadi perhatian pasar setelah kedua pihak saling menuntut kompensasi atas serangan militer yang terjadi sebelumnya.

Kondisi tersebut dinilai mengurangi harapan pasar terhadap tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz, salah satu jalur penting bagi perdagangan energi global.

“Amerika Serikat dan Iran sama-sama menuntut kompensasi atas serangan militer baru-baru ini, sehingga memupus harapan bahwa kedua pihak sudah mendekati kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz,” ujar Ibrahim dilansir dari Antara.

Klaim mengenai kondisi Selat Hormuz juga masih berseberangan. Amerika Serikat menyatakan jalur perairan tersebut tetap terbuka, sedangkan Iran mengklaim telah menutupnya dengan menggunakan ranjau dan pesawat nirawak atau drone.

Tekanan terhadap rupiah turut dipengaruhi kekhawatiran mengenai pasokan energi global. Serangan kelompok Houthi di Yaman terhadap kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco menambah risiko terhadap infrastruktur energi di kawasan tersebut.

Ibrahim mengatakan Houthi juga mengancam membuka front baru dalam konflik dengan menyerang kapal dan infrastruktur minyak di kawasan Laut Merah.

“Kelompok Houthi mengancam akan membuka front baru dalam konflik yang melibatkan Iran dengan cara menyerang kapal serta infrastruktur minyak di Laut Merah. Langkah ini meningkatkan kecemasan akan gangguan pasokan dan semakin mendorong kenaikan harga minyak mentah,” katanya.

Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global dan memengaruhi sentimen investor terhadap aset-aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah sedikit tertahan oleh perkembangan mengenai kepemimpinan Bank Indonesia (BI).

Prabowo Subianto Presiden RI menunjuk Destry Damayanti Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur BI sebagai calon tunggal untuk menggantikan Perry Warjiyo.

Penunjukan tersebut dinilai memberikan kejelasan mengenai arah kepemimpinan bank sentral dan meredakan sebagian kekhawatiran pasar.

Namun, sentimen positif tersebut belum sepenuhnya mampu menahan tekanan terhadap rupiah. Pasar juga mencermati penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).

“Namun, pasar juga merespon negatif setelah rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terbaru yang menurun, dari 117,8 pada Juni 2026 menjadi 116,8 pada Juli 2026,” ujar Ibrahim.

Sementara itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa juga melemah. JISDOR tercatat di level Rp17.824 per dolar AS, turun dari posisi sebelumnya Rp17.795 per dolar AS. (ant/saf/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Kecelakaan Mobil Terguling di Gunungsari Surabaya

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Kecelakaan Beruntun di Gempol, Libatkan 7 Kendaraan

Surabaya
Selasa, 11 Agustus 2026
27o
Kurs