Sabtu, 10 Oktober 2026

Anak Muda Jatim Didorong Lebih Berani Berwirausaha dan Mengembangkan Inovasi Bisnis

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Emil Dardak Wakil Gubernur Jatim bersama Surjanto Yasaputera Ketua Dewan Komisioner DSC di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Foto: Istimewa

Anak muda Jawa Timur didorong lebih berani berwirausaha melalui penguatan ekosistem, pendampingan, dan ruang uji inovasi agar mampu mengembangkan ide menjadi bisnis berkelanjutan dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Emil Elestianto Dardak Wakil Gubernur Jawa Timur menekankan pentingnya membangun ekosistem kewirausahaan anak muda yang berkelanjutan.

Emil menyoroti pentingnya pengembangan sandbox kewirausahaan, yakni ruang uji coba bagi wirausaha pemula untuk menguji kelayakan produk sebelum masuk ke pasar yang lebih luas.

Mekanisme itu menurutnya, dapat membantu calon pengusaha dalam mengukur respons konsumen, menentukan harga yang kompetitif, mengenali pesaing, serta menemukan faktor yang menentukan keberhasilan bisnis sejak tahap awal.

“Jangan sampai kemampuan mereka berinovasi itu terkungkung oleh ruwetnya regulasi. Di sini fungsi pemerintah harusnya membuat hal-hal ini jadi lebih mudah,” terangnya, Sabtu (10/10/2026).

Gagasan tersebut, kata dia, akan ditindaklanjuti melalui komunikasi antara Diplomat Success Challenge (DSC) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Selain itu, Pemprov Jatim juga berencana menjalin komunikasi dengan Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk membahas kemungkinan pengembangannya.

Ia menilai, proses membangun wirausaha membutuhkan pembinaan yang berkelanjutan, karena perjalanan seorang entrepreneur tidak selalu bertumpu pada satu jenis bisnis dan perlu kemampuan beradaptasi, membaca peluang, dan terus berinovasi untuk menghadapi perubahan pasar.

“Yang harus kita cetak itu apa? Entrepreneur-nya atau wirausahanya ini. Nah, ini yang dicoba dibangun di DSC,” ujarnya.

Ia juga mencontohkan inovasi yang lahir dari kolaborasi alumni DSC, yakni produk ear monitor yang dikembangkan bersama produk mikrofon milik alumni lainnya hingga berpeluang dipamerkan di luar negeri.

Selain itu, ada inovasi berupa spray untuk memberikan sugesti rasa manis yang dikembangkan mahasiswa ITS.

Produk tersebut ditujukan untuk membantu mengurangi keinginan mengonsumsi makanan manis secara berlebihan, sejalan dengan tren gaya hidup sehat.

Inovasi itu menurutnya, menunjukkan bahwa kolaborasi dan kemampuan membaca kebutuhan masyarakat dapat menjadi pintu masuk untuk menciptakan produk yang memiliki nilai ekonomi.

Pemprov Jatim, lanjut dia, juga berpeluang mendukung pemasaran produk melalui berbagai program pemerintah, seperti misi dagang dan kegiatan promosi. Sehingga, produk yang dihasilkan entrepreneur muda dapat memperoleh akses pasar yang lebih luas.

Sementara itu, Surjanto Yasaputera Ketua Dewan Komisioner DSC menjelaskan, ada tiga unsur penting dalam membangun pola pikir kewirausahaan, yakni kemauan personal, pengetahuan (knowledge), dan keterampilan (skill).

Pengetahuan menurutnya bisa diperoleh dari berbagai sumber, sedangkan keterampilan perlu diasah melalui latihan dan pengalaman.

Namun, ia menegaskan bahwa kedua unsur tersebut tidak akan optimal tanpa kemauan untuk memulai dan bertahan menghadapi tantangan.

“Kalau kita tidak ada kemauan, ya tentu sulit. Kemudian skill, biasanya ini harus dilalui dengan latihan. Jadi, kalau sudah mau melakukan sesuatu, kemudian dilatih skill-nya, knowledge-nya didapatkan dari sumber mana pun, pola pikir wirausahawan itu sudah terbentuk,” ucapnya.

Melalui dukungan tersebut, pihaknya berupaya membantu entrepreneur muda tidak hanya memiliki ide kreatif, tetapi juga kesiapan untuk mengembangkan bisnis secara profesional dan berkelanjutan.

Imam Baihaqi Wakil Rektor III ITS menambahkan, kampusnya tengah bertransformasi dari Research University menuju Entrepreneurial University.

Ia menjelaskan, transformas tersebut tidak sekadar bertujuan mencetak lulusan yang mendirikan perusahaan, tetapi juga menghasilkan sarjana yang memiliki jiwa kewirausahaan, mampu mencari peluang, dan berani menyelesaikan persoalan melalui inovasi.

“Artinya, kita bukan hanya menciptakan entrepreneur-entrepreneur, tetapi kita menciptakan lulusan yang berjiwa entrepreneur,” ujarnya.

ITS, kata dia, telah mengembangkan berbagai ekosistem untuk mendukung kewirausahaan, termasuk pusat pengembangan karier dan kewirausahaan serta Science Technopark.

Menurutnya, mahasiswa perlu melihat persoalan di sekitar sebagai peluang bisnis melalui solusi sederhana yang bermanfaat, bernilai ekonomi, membuka lapangan kerja, dan berdampak sosial.

“Cara untuk memulai usaha itu adalah carilah masalah di sekitar kita, selesaikan masalah itu dengan solusi-solusi bisnis,” pungkasnya. (ris/saf/iss)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Sabtu, 10 Oktober 2026
29o
Kurs