Kamis, 19 Februari 2026

BI: Modal Asing Masuk 1,6 Miliar Dolar AS, Bantu Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Ilustrasi logo Bank Indonesia (BI) yang tampak di kantor pusat BI di Jakarta. Foto: Reuters

Bank Indonesia (BI) mencatat aliran investasi portofolio asing masuk (net inflows) sebesar 1,6 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp25,6 triliun (kurs Rp16.000 per dolar AS) sejak awal tahun hingga 13 Februari 2026. Arus modal tersebut dinilai turut memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika pasar global.

Destry Damayanti Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia menjelaskan, aliran dana asing terutama masuk ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN), sementara investasi di pasar saham masih mencatat arus keluar.

“Berdasarkan data settlement di tanggal 18 Februari ini, inflow di SRBI mencapai Rp31 triliun dan di SBN mencapai sekitar Rp530 miliar. Jadi inflow ini terus meningkat, sehingga overall, year to date itu sudah mencapai sekitar 1,6 miliar dolar AS untuk inflow. Dan ini sangat membantu sekali untuk stabilitas dari rupiah itu sendiri,” kata Destry dalam konferensi pers daring di Jakarta, Kamis (19/2/2026) yang dikutip Antara.

Selain itu, bank sentral juga terus memperdalam pasar valuta asing (valas) rupiah–renminbi (RMB) guna mendukung transaksi perdagangan Indonesia dengan Tiongkok melalui skema local currency transaction (LCT).

Destry mencatat transaksi LCT Indonesia–Tiongkok terus meningkat. Pada Desember 2025 saja nilainya mencapai 2,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp43,2 triliun. BI pun terus mendorong penggunaan mata uang lokal agar transaksi perdagangan tidak sepenuhnya bergantung pada dolar AS.

“Dan kalau kita lihat juga suplainya makin lama juga makin bertambah. Tapi memang tentu masih terus kita butuhkan upaya untuk penambahan suplai dari CNY dan CNH di pasar valas kita,” ujarnya.

Sementara itu, Perry Warjiyo Gubernur BI menilai nilai tukar rupiah saat ini masih berada di bawah nilai wajarnya (undervalued) jika dibandingkan dengan fundamental ekonomi domestik, termasuk inflasi yang dijaga pada kisaran target 2,5 persen plus minus 1 persen pada 2026–2027.

“Faktor fundamental yaitu indikator inflasi, pertumbuhan ekonomi, imbal hasil, maupun juga indikator-indikator lain yang semuanya menunjukkan rupiah semestinya akan lebih stabil dan cenderung menguat,” kata Perry Warjiyo Gubernur Bank Indonesia.

Meski demikian, tekanan terhadap rupiah dinilai lebih dipengaruhi faktor teknikal dan premi risiko global yang memicu volatilitas jangka pendek di pasar keuangan.

Untuk menjaga stabilitas, BI meningkatkan intensitas intervensi nilai tukar melalui pasar non-delivery forward (NDF) luar negeri (offshore), transaksi spot, serta domestic non-delivery forward (DNDF) di pasar domestik.

Langkah stabilisasi tersebut juga diperkuat dengan upaya menarik investasi portofolio asing melalui instrumen SRBI dan SBN guna menjaga likuiditas dan stabilitas pasar keuangan nasional.

“Alhamdulillah selama dua bulan ini, investasi portofolio asing terus masuk, sudah ada net inflow dan itu akan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dengan tetap memastikan kecukupan likuiditas di dalam negeri sepertimana terjemin pada pertumbuhan uang primer yang selalu double digit,” kata Perry. (ant/bil)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Kamis, 19 Februari 2026
24o
Kurs