Rabu, 6 Mei 2026

BI Punya 7 Strategi Perkuat Nilai Tukar Rupiah

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan
Ilustrasi. Rupiah. Foto: Bank Indonesia

Bank Indonesia (BI) memiliki tujuh strategi mempekuat nilai tukar rupiah yang melemah belakangan.

“Kami melaporkan pada Pak Presiden, kemudian memberikan suatu penguatan-penguatan. 7 langkah penting yang ditempuh Bank Indonesia untuk membuat rupiah kuat, membuat rupiah itu stabil ke depan,” kata Perry Warjiyo Gubernur BI di Istana Kepresidenan di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

BI akan mengintervensi pasar valuta asing di dalam negeri dan di luar negeri untuk menjaga nilai tukar rupiah kembali stabil.’

“Di Hongkong, di Singapura, di London, di New York kami terus akan melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah baik di dalam negeri maupun dari luar negeri. Cadangan devisa kami lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah itu,” katanya

BI juga akan fokus memperkuat aliran modal masuk ke dalam negeri lewat instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

“Kami bersepakat untuk sementara ini SRBI dibuat perlu inflow (aliran masuk) sehingga inflow-nya SRBI bisa mencukupi aliran keluarnya (outflow) SBN (surat berharga negara) dan saham. Itu koordinasi kami dengan Pak Menteri Keuangan sehingga betul-betul menjaga inflow-nya dari portofolio asing itu masih dari awal tahun hingga saat ini (year-to-date) masih terjadi inflow dan itu memperkuat nilai tukar rupiah,” jelas Perry.

BI dan Kementerian Keuangan juga terus berkoordinasi terkait pembelian SBN dari pasar sekunder.

“Koordinasi dengan pak Menteri Keuangan BI akan terus membeli SBN dari pasar sekunder. Ini koordinasi sudah awal tahun koordinasi dan kita lakukan. Kami sudah membeli SBN dari pasar sekunder year to date adalah Rp123,1 triliun, dan kami akan melakukan koordinasi termasuk nanti bisa melakukan masalah buyback dan segala macam ini,” ujarnya.

Langkah keemapt adalah menjaga likuiditas perbankan dan pasar modal. Di mana pertumbuhan uang primer mecapai 14,1 persen.

Kemudian menguatkan interaksi di offshore non-delivery forward, sehingga pemerintah mampu mengendalikan perkembangan nilai tukar di offshore di luar negeri.

“Ke tujuh adalah peningkatan, pengawasan, kepada bank-bank dan korporasi, yang terutama kami lihat aktivitas pembelian dolarnya tinggi, kami kirim pengawas ke sana, koordinasi dengan Ketua OJK untuk memastikan bagaimana stabilitas sistem keuangan terjaga,” pungkasnya.(lea/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Gudang di Jalan Jawar Surabaya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Rabu, 6 Mei 2026
33o
Kurs