Minggu, 7 Juni 2026

Harga Telur Ayam Terus Turun, Bapanas Siapkan Langkah Selamatkan Peternak

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Stock telur ayam di Pasar Sopoyono Jl. Rungkut Asri Utara, Kec. Rungkut, Surabaya, Rabu (8/10/2025). Foto: Dokumen suarasurabaya.net

Badan Pangan Nasional (Bapanas) memperkuat upaya menjaga keseimbangan harga telur ayam ras dari tingkat peternak hingga konsumen, menyusul tren penurunan harga yang terus terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan peternak tetap memperoleh keuntungan yang layak tanpa mengorbankan daya beli masyarakat.

I Gusti Ketut Astawa Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas mengatakan, telur ayam ras menjadi salah satu komoditas pangan strategis yang saat ini mendapat perhatian khusus pemerintah karena kembali mengalami deflasi pada Mei 2026.

“Salah satu komoditas yang saat ini menjadi perhatian adalah telur ayam ras, yang kembali mencatatkan deflasi pada Mei 2026,” kata Ketut Astawa pada Minggu (7/6/2026).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), deflasi telur ayam ras tercatat sebesar 4,29 persen pada April 2026 dan meningkat menjadi 5,14 persen pada Mei 2026.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada harga jual di tingkat peternak yang terus mengalami tekanan.

Data pemantauan Bapanas menunjukkan, rata-rata harga telur ayam ras pada Maret masih berada di level Rp27.236 per kilogram.

Angka itu kemudian turun menjadi Rp25.719 per kilogram pada April, kembali merosot menjadi Rp24.688 per kilogram pada Mei, dan mencapai Rp24.424 per kilogram pada awal Juni 2026.

Menurut Ketut, pemerintah tidak ingin penurunan harga yang berlarut-larut mengganggu keberlangsungan usaha peternakan rakyat. Karena itu, sejumlah strategi disiapkan untuk meningkatkan penyerapan produksi sekaligus memperluas konsumsi masyarakat.

“Sekarang telur turun. Nah, ini kami harus mengangkat lagi ini. Tugas kami harus mengangkat agar harga telur ayam di tingkat produsen bisa naik, tapi tetap harus kita jaga di hilirnya. Jangan sampai melebihi harga acuan yang kita tetapkan,” ujarnya dilansir dari Antara.

Ia menegaskan pemerintah berupaya menciptakan harga yang adil bagi seluruh pelaku dalam rantai pasok pangan. Sebagai negara yang telah mampu memenuhi kebutuhan telur ayam dari produksi dalam negeri, Indonesia perlu memastikan peternak tetap mendapatkan harga yang wajar agar produksi nasional tetap terjaga.

“Begitu kondisinya bergerak dinamis, pemerintah hadir dalam rangka mengendalikan harga, mengendalikan pasokan. Jadi, prinsipnya begitu, sehingga kita berharap ke depan, harga wajar,” ungkap Ketut Astawa.

Untuk menjaga stabilitas tersebut, pemerintah akan memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, asosiasi peternak, koperasi, hingga pelaku usaha pangan. Penataan distribusi dan pengelolaan pasokan dinilai menjadi faktor penting agar harga tetap stabil di tingkat hulu maupun hilir.

“Yang di tengah harus kita atur, harus kita tata. Ini artinya, pemerintah turun di dua sisi. Stabilkan di hilir. Stabilkan di hulu. Tatkala telur terlalu rendah di hulu, sesuaikan, wajarkan harga. Negara ini swasembada. Petani harus nyaman, peternak harus nyaman berproduksi,” tutur Ketut Astawa. (ant/saf/ham)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Gerbang King Abdulaziz Masjidil Haram

Abraj Al Bait, Makkah Royal Clock Tower

Surabaya
Minggu, 7 Juni 2026
31o
Kurs