Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah pada perdagangan Senin (24/8/2026).
Tekanan pasar datang dari pelemahan mayoritas bursa saham Asia serta kekhawatiran investor terhadap pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia.
IHSG turun 24,02 poin atau 0,37 persen ke level 6.501,67. Sejalan dengan itu, indeks saham unggulan LQ45 melemah 2,64 poin atau 0,41 persen menjadi 641,95.
Maximilianus Nico Demus Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas mengatakan, pergerakan IHSG turut dipengaruhi sentimen negatif dari pasar regional Asia.
“Bursa regional Asia cenderung melemah seiring pelemahan futures saham Amerika Serikat (AS) menjelang konferensi pers Menteri Keuangan AS Scott Bessent terkait rencana sanksi tambahan terhadap Iran,” ujar Nico.
Selain sentimen global, perhatian investor domestik tertuju pada kondisi transaksi berjalan Indonesia. Bank Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2026 mencapai 12,5 miliar dolar AS atau sekitar 3,3 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Pelebaran defisit tersebut menjadi salah satu faktor yang menekan sentimen pasar. Kondisi itu terjadi seiring menyusutnya surplus perdagangan barang dan meningkatnya biaya impor energi.
Dari pasar global, investor juga mencermati perkembangan ekonomi China. Pelaku pasar menantikan pertemuan Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional China pada 25-28 Agustus 2026 untuk mencari petunjuk mengenai kemungkinan kebijakan baru guna menopang pertumbuhan ekonomi.
Dilansir dari Antara, perhatian tersebut meningkat setelah sejumlah data ekonomi China menunjukkan kinerja yang mengecewakan dan pemerintah berkomitmen memperkuat pertumbuhan ekonomi.
IHSG sempat dibuka di zona hijau pada awal perdagangan. Namun, indeks kemudian berbalik melemah dan masuk ke teritori negatif hingga akhir sesi pertama. Tekanan berlanjut pada sesi kedua sehingga IHSG bertahan di zona merah sampai penutupan.
Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, hanya dua sektor yang mampu menguat. Sektor barang baku menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 1,21 persen, disusul sektor industri yang naik 0,15 persen.
Sementara itu, sembilan sektor lainnya berakhir di zona merah. Sektor kesehatan mencatat pelemahan paling dalam, yakni 2,30 persen. Berikutnya sektor properti turun 1,27 persen dan sektor keuangan melemah 0,86 persen.
Sejumlah saham mencatat kenaikan harga terbesar, antara lain PICO, ELIT, SAFE, EKAD, dan CENT. Sebaliknya, saham MEJA, ICON, MPRO, SDMU, dan CBTN menjadi saham dengan pelemahan harga terbesar.
Aktivitas perdagangan saham di BEI tercatat cukup tinggi. Sebanyak 2.171.000 transaksi terjadi dengan volume perdagangan mencapai 34,23 miliar saham dan nilai transaksi Rp14,26 triliun.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 276 saham menguat, 384 saham melemah, sedangkan 303 saham tidak mengalami perubahan harga.
Tekanan juga terlihat di sejumlah bursa utama Asia. Indeks Nikkei Jepang turun 0,69 persen ke 65.560,00. Shanghai Composite melemah 0,59 persen ke 3.882,01, sedangkan Hang Seng Hong Kong turun 1,89 persen menjadi 25.517,33.
Pelemahan terdalam terjadi pada indeks Kospi Korea Selatan yang merosot 3,12 persen ke 6.696,96. Sementara indeks Strait Times Singapura turun 0,15 persen ke 5.680,69. (ant/saf/ham)










