Senin, 11 Mei 2026

IHSG Melemah Awal Pekan Ini, Dipicu Kebijakan Royalti yang Bayangi Saham Tambang

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). Foto: Antara

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melemah 9,46 poin atau sekitar 0,14 persen ke level 6.959,94 di pembukaan perdagangan, Senin (11/5/2026) pagi.

Terkait pelemahan ini, Hari Rachmansyah Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) menilai dinamika geopolitik global dan kebijakan tarif royalti komoditas akan memengaruhi pergerakan IHSG selama tiga hari perdagangan ke depan.

Selain itu, perdagangan pekan ini berlangsung lebih sebentar karena terdapat libur nasional dan cuti bersama Kenaikan Yesus Kristus pada 14-15 Mei 2026. Hari menyampaikan bahwa salah satu dinamika global yang berpengaruh ialah perayaan Hari Kemenangan di Moskow.

“Baru-baru ini Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan keyakinannya bahwa perang Ukraina akan segera berakhir. Pernyataan ini disampaikan hanya beberapa jam setelah ia berpidato menegaskan tekad kemenangan Rusia dalam perayaan Hari Kemenangan di Moskow yang berlangsung lebih sederhana dibanding tahun-tahun sebelumnya,” terangnya seperti dilansir Antara, Senin.

Terkait wabah hantavirus, menurutnya kondisi pasar masih belum terguncang di tengah kekhawatiran sebagian besar masyarakat global. Data dari Kalshi platform prediksi menunjukkan kemungkinan hantavirus menjadi ancaman serius tahun ini hanya sebesar 21 persen.

Fokus pasar terpusat pada pertemuan puncak antara Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) dengan Xi Jinping Presiden China yang diperkirakan akan membahas konflik Iran dengan AS-Israel.

“Kondisi ini berpotensi mempersempit ruang negosiasi untuk isu-isu krusial lainnya seperti tarif perdagangan dan pasokan rare earth, sehingga ketidakpastian pada dua isu tersebut kemungkinan masih akan bertahan dalam waktu dekat,” ungkap Hari.

Sementara itu dari dalam negeri, pelaku pasar perlu mencermati beberapa agenda dan perkembangan kebijakan dalam  waktu dekat.

“Rebalancing MSCI Indonesia yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026 kemungkinan tidak menghadirkan pendatang baru, namun tetap berpotensi memicu pergeseran bobot saham yang dapat mempengaruhi arah pergerakan pasar secara keseluruhan,” katanya.

Salah satu perkembangan kebijakan datang dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang telah mengadakan sidang dengar pendapat pada 8 Mei 2026 mengenai usulan perubahan tarif royalti untuk komoditas tembaga, timah, nikel, emas, dan perak.

Menurut Hari, kebijakan tersebut bukan hanya sekedar wacana karena direncanakan mulai berlaku pada Juni 2026.

Dari seluruh komoditas yang terdampak, emas menujukkan peningkatan tarif paling signifikan secara persentase di batas bawah hingga 100 persen. Situasi ini menimbulkan tekanan di tengah harga emas global yang juga masih berada di level tinggi.

Di sisi lain, timah dinilai menjadi komoditas yang paling terguncang karena kenaikan tarif terjadi pada kedua ujung rentang royalti sekaligus.

“Yang perlu menjadi perhatian lebih lanjut, tekanan terhadap sektor minerba tidak berhenti pada kenaikan royalti semata. Wacana penerapan bea ekspor dan windfall tax yang tengah dikaji Kementerian Keuangan turut menambah lapisan ketidakpastian, khususnya bagi subsektor nikel dan batu bara, sehingga volatilitas sektor minerba secara keseluruhan berpotensi bertahan dalam jangka pendek,” paparnya.

Dengan seluruh pertimbangan sentimen untuk satu pekan ini, Hari memprediksi pergerakan IHSG pada periode 11-13 Mei 2026 berpotensi bergerak mixed dengan kecenderungan terbatas.

Penyesuaian bobot indeks MSCI pada 12 Mei juga berpotensi menimbulkan perombakan portofolio yang menimbulkan fluktuasi harga sementara pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Pada saat yang sama, saham-saham dalam sektor pertambangan dan energi diperkirakan terus tertekan imbas kebijakan kenaikan royalti mineral, serta wacana bea ekspor dan windfall tax.

Di tengah net sell investor asing yang belum menunjukkan tanda pembalikan arah, penguatan indeks saat ini hanya mengandalkan aliran dana domestik dan kemampuan saham-saham big caps di luar sektor minerba sebagai penahan tekanan pasar.

Hari mengatakan, selektivitas sektor menjadi kunci utama dalam navigasi portofolio pekan ini.

“Dalam kondisi ini investor disarankan untuk tetap selektif dengan pendekatan trading-oriented, memanfaatkan momentum pada sektor-sektor yang kuat, namun tetap disiplin dalam manajemen risiko, mengingat volatilitas pasar yang masih relatif tinggi serta potensi perubahan sentimen yang cepat,” pungkasnya. (ant/vve/bil/ham)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Gudang di Jalan Jawar Surabaya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Senin, 11 Mei 2026
33o
Kurs