Selasa, 8 September 2026

IHSG Menguat 0,30 Persen Didukung Kenaikan Cadangan Devisa

Laporan oleh M. Hamim Arifin
Bagikan
Ilustrasi - Karyawan melintas di depan layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/1/2023). Foto: Antara Ilustrasi - Karyawan melintas di depan layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/1/2023). Foto: Antara

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (8/9/2026) pagi menguat 19,84 poin atau 0,30 persen ke posisi 6.639,51, didukung kenaikan cadangan devisa Indonesia pada Agustus 2026.

Kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turut menguat 1,31 poin atau 0,20 persen ke posisi 657,73.

“Posisi cadangan devisa dapat mengimbangi pembayaran utang luar negeri dan intervensi sebagai upaya menjaga kestabilan nilai tukar Rupiah oleh Bank Indonesia (BI),” ujar Ratna Lim Kepala Riset Phintraco Sekuritas, seperti dilaporkan Antara, Selasa.

Cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi 146,5 miliar dolar AS pada Agustus 2026 dari 145,3 miliar dolar AS pada Juli. Posisi tersebut merupakan yang tertinggi sejak Maret 2026, didorong peningkatan penerimaan pajak dan jasa serta penarikan utang luar negeri pemerintah.

Cadangan devisa tersebut setara dengan kebutuhan impor selama 5,4 bulan atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka itu berada di atas standar internasional sebesar tiga bulan impor.

Di sisi lain, pasar mencermati ruang fiskal pemerintah yang terbatas. Permintaan tambahan anggaran kementerian/lembaga untuk 2027 mencapai hampir Rp1.000 triliun, jauh di atas tambahan anggaran belanja K/L yang telah disepakati sebesar Rp9,1 triliun.

Pemerintah perlu melakukan efisiensi anggaran untuk menjaga defisit tidak melampaui target yang telah ditetapkan.

Dari kawasan Asia, investor akan mencermati data ekspor-impor China pada hari ini. Ekspor Agustus 2026 diperkirakan tumbuh 25 persen secara tahunan, meningkat dari 23,9 persen pada Juli. Impor juga diperkirakan naik menjadi 30 persen dari 27,5 persen.

Investor selanjutnya akan mencermati data inflasi China besok, Rabu (9/9/2026), yang diperkirakan meningkat menjadi 0,3 persen secara bulanan pada Agustus dari deflasi 0,1 persen pada Juli. Secara tahunan, inflasi diperkirakan mencapai 0,8 persen dari 0,5 persen.

Di Eropa, investor mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan European Central Bank (ECB) sebesar 25 basis poin pada Kamis (10/9/2026), seiring meningkatnya inflasi Zona Euro menjadi 3,3 persen pada Agustus 2026.

Dari mancanegara, ketegangan Amerika Serikat dan Iran turut menjadi perhatian pasar setelah Ketua Parlemen Iran memperingatkan potensi serangan terhadap perusahaan energi AS jika aset Iran diserang. Eskalasi terjadi setelah AS menyerang dan melumpuhkan tiga kapal tanker minyak Iran, sementara Iran mengisyaratkan rencana menetapkan zona terlarang di sekitar Selat Hormuz.

Bursa Eropa pada Senin (7/9/2026) bergerak variatif. Euro Stoxx 50 menguat 0,17 persen dan CAC 40 Prancis naik 0,33 persen, sedangkan FTSE 100 Inggris turun 0,08 persen dan DAX Jerman melemah 0,15 persen. Bursa Wall Street libur dalam rangka Hari Buruh.

Sementara itu, bursa saham Asia pagi ini bergerak variatif. Nikkei menguat 0,31 persen ke 66.605, Shanghai naik 0,29 persen ke 3.944,19, dan Kospi menguat 1,69 persen ke 7.113,46. Sebaliknya, Hang Seng melemah 0,70 persen ke 25.236 dan Straits Times turun 0,59 persen ke 5.759,24. (ant/ham)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Surabaya
Selasa, 8 September 2026
34o
Kurs