Fenomena erupsi sejumlah gunung api di Indonesia dalam waktu berdekatan tidak dapat dijadikan tanda akan terjadinya gempa megathrust. Dr. M. Haris Miftakhul Fajar Ahli Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menjelaskan, aktivitas gunung api dan megathrust memang memiliki kaitan dalam sistem subduksi, tetapi erupsi bukan produk langsung dari megathrust.
Haris mengatakan, proses subduksi atau penunjaman lempeng menjadi bagian penting dalam pembentukan magma dan aktivitas gunung api di Indonesia. Proses tersebut masih berlangsung hingga saat ini sehingga aktivitas vulkanik menjadi bagian dari dinamika kebumian.
“Antara megathrust dengan gunung api ada hubungannya. Subduksi Indo-Australia di bawah Eurasia menghasilkan subduksi yang kita sebut megathrust, thrusting dengan skala mega atau besar,” kata pria yang juga menjabat Kepala Departemen Teknik Geofisika ITS saat mengudara dalam program Wawasan Radio Suara Surabaya, Selasa (8/9/2026) pagi.
Menurutnya, hubungan antara sistem subduksi, gunung api, dan megathrust tidak berarti erupsi gunung api dapat menjadi indikator langsung terjadinya gempa megathrust. Karena itu, anggapan bahwa meningkatnya aktivitas sejumlah gunung api merupakan pertanda akan terjadi gempa besar perlu dilihat berdasarkan kajian geologi.

NOW ON AIR SSFM 100

