Selasa, 21 Juli 2026

IHSG Menguat 0,91 Persen Jelang RDG BI, Investor Tunggu Arah Suku Bunga

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi saham naik. Foto: suarasurabaya.net

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,91 persen pada perdagangan Senin (20/7/2026), di tengah sikap pelaku pasar yang masih menunggu keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia mengenai arah kebijakan suku bunga acuan.

Pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG naik 56,25 poin ke level 6.231,78. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan turut menguat 5,84 poin atau 0,94 persen menjadi 627,75.

Hendra Wardana pengamat pasar modal mengatakan, pergerakan pasar pada pekan ini masih didominasi sikap wait and see menjelang RDG BI yang berlangsung pada 21-22 Juli 2026.

Menurutnya, perhatian investor tidak hanya tertuju pada keputusan BI Rate yang saat ini berada di level 5,75 persen setelah naik tiga kali atau total 100 basis poin sepanjang 2026, tetapi juga pada sinyal kebijakan lanjutan yang akan disampaikan bank sentral.

“Dengan mempertimbangkan sentimen domestik dan global, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang 6.000-6.300 sepanjang pekan RDG BI, dengan level 6.500 menjadi area penopang penting,” ujar Hendra dilansir dari Antara.

Ia menjelaskan, pasar akan mencermati pandangan Bank Indonesia terkait stabilitas nilai tukar rupiah, prospek inflasi, hingga potensi arus modal asing.

Menurutnya, dalam kondisi saat ini, investor justru lebih sensitif terhadap arah kebijakan atau forward guidance dibandingkan besaran perubahan suku bunga itu sendiri.

Hendra menilai, selama BI mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi, respons pasar berpeluang tetap positif karena sebagian besar ekspektasi tersebut telah diperhitungkan investor.

Namun, apabila bank sentral memberikan sinyal pengetatan moneter yang lebih agresif, tekanan jangka pendek terhadap IHSG masih mungkin terjadi, terutama pada sektor-sektor yang sensitif terhadap kenaikan suku bunga.

Meski demikian, ia menilai langkah tersebut juga dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia.

Untuk prospek hingga akhir 2026, Hendra tetap optimistis terhadap peluang penguatan IHSG meski volatilitas diperkirakan masih tinggi.

Selain kebijakan BI, pergerakan pasar juga dipengaruhi arah suku bunga Federal Reserve (The Fed), perkembangan geopolitik global, stabilitas rupiah, harga komoditas, serta kinerja laba emiten.

“Kenaikan suku bunga BI tidak selalu menjadi sentimen negatif bagi pasar saham. Dalam kondisi tertentu, langkah itu justru dipandang sebagai upaya menjaga stabilitas makroekonomi sehingga mampu meningkatkan daya tarik aset keuangan Indonesia di mata investor asing,” katanya.

Sepanjang perdagangan, IHSG bertahan di zona hijau sejak sesi pertama hingga penutupan. Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, sembilan sektor mencatat penguatan, dipimpin sektor industri yang naik 3,23 persen, disusul sektor energi sebesar 2,55 persen dan sektor barang baku sebesar 1,79 persen.

Sementara itu, dua sektor mengalami pelemahan, yakni sektor teknologi yang turun 0,63 persen dan sektor kesehatan yang melemah 0,19 persen.

Aktivitas perdagangan tercatat mencapai 2,36 juta kali transaksi dengan volume 30,19 miliar lembar saham senilai Rp17,11 triliun. Sebanyak 421 saham menguat, 220 saham melemah, dan 324 saham bergerak stagnan.

Di kawasan Asia, mayoritas bursa juga ditutup menguat. Indeks Shanghai naik 0,85 persen menjadi 3.796,28 dan Hang Seng melonjak 2,36 persen ke level 25.143,05.

Sementara itu, indeks Shenzhen turun 0,71 persen, Kospi melemah 4,46 persen, dan Strait Times terkoreksi 0,20 persen. (ant/saf/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Selasa, 21 Juli 2026
28o
Kurs