Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi bergerak variatif pada perdagangan Rabu (9/9/2026).
Pelaku pasar mencermati meningkatnya tensi geopolitik serta perkembangan ekspektasi terhadap arah suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed).
IHSG dibuka menguat 14,40 poin atau 0,22 persen ke posisi 6.700,84. Sementara itu, indeks LQ45 yang mengukur kinerja 45 saham unggulan naik 0,90 poin atau 0,14 persen menjadi 666,48.
Liza Camelia Suryanata Head of Research Kiwoom Sekuritas mengatakan, IHSG masih memiliki peluang melanjutkan penguatan apabila mampu menembus level tertentu.
“IHSG berpeluang melanjutkan penguatan menuju gap 6.723, dengan target berikutnya di 6.787-6.858 jika berhasil break. Sebaliknya, koreksi berpotensi menguji support 6.636, 6.58 dan 6.566,” ujar Liza dilansir dari Antara.
Dari pasar global, sentimen investor dibayangi kembali meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Aksi militer di kawasan Timur Tengah memunculkan kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan minyak dunia.
AS dilaporkan menyerang kapal tanker minyak Iran sebagai respons atas serangan rudal terhadap kapal perang AS. Iran kemudian menargetkan sejumlah kapal di kawasan Selat Hormuz dan Teluk Persia.
Gangguan tersebut berpotensi menekan arus ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah. Ekspor minyak kawasan itu pada Agustus 2026 dilaporkan turun 39 persen dibandingkan baseline Januari-Februari sebelum konflik.
Serangan terhadap fasilitas kilang Jazan milik Saudi Aramco juga meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan produk olahan minyak secara global.
Selain faktor geopolitik, pasar saham juga mencermati perkembangan ekonomi Amerika Serikat. Data ketenagakerjaan AS periode Agustus 2026 menunjukkan penambahan 162.000 nonfarm payrolls, jauh di atas ekspektasi 55.000. Tingkat pengangguran tercatat bertahan di level 4,1 persen.
Data tersebut mengindikasikan perekonomian AS masih relatif kuat meski inflasi tetap menjadi perhatian. Kondisi itu turut meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada September 2026, dengan probabilitas sekitar 60 persen.
Di sisi lain, Donald Trump Presiden AS kembali mendesak The Fed menurunkan suku bunga setelah data ketenagakerjaan tersebut dirilis. Desakan itu menambah perhatian pasar terhadap independensi bank sentral AS.
Investor selanjutnya akan menunggu rilis data Producer Price Index (PPI) dan Consumer Price Index (CPI) AS untuk periode Agustus 2026.
Data tersebut dinilai penting untuk memberikan petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan The Fed dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16 September 2026.
Dari dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada prospek investasi sektor energi baru terbarukan (EBT). Minat investasi masih banyak mengarah ke Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), seiring teknologi panel surya yang semakin efisien dan matang.
Pemerintah menilai PLTS akan menjadi salah satu tumpuan dalam meningkatkan bauran energi nasional. Sementara itu, pengembangan nuklir, energi gelombang laut, serta sejumlah sumber EBT lainnya masih menghadapi tantangan dari sisi risiko dan kebutuhan transisi teknologi.
Pemerintah juga tengah menyiapkan skema insentif baru sebagai pengganti tax holiday yang berakhir pada 2025. Kebijakan tersebut disiapkan seiring penerapan Global Minimum Tax (GMT) yang berpotensi mengurangi manfaat pembebasan pajak bagi investor asing.
Sejumlah alternatif yang tengah dikaji antara lain perluasan tax allowance, subsidi penggunaan energi ramah lingkungan, serta subsidi berbasis volume produksi.
Dari pasar saham global, bursa Eropa bergerak variatif pada penutupan Selasa (8/9). Euro Stoxx 50 menguat 0,14 persen, FTSE 100 Inggris melemah 0,10 persen, DAX Jerman stagnan, sedangkan CAC 40 Prancis menguat 0,14 persen.
Wall Street ditutup melemah. S&P 500 turun 0,58 persen ke level 7.673,52, Nasdaq Composite melemah 0,32 persen menjadi 26.421,41, sementara Dow Jones Industrial Average turun 1,18 persen ke level 52.786,07.
Sementara itu, mayoritas bursa saham regional Asia bergerak menguat pada perdagangan pagi. Nikkei naik 0,17 persen ke 65.382,00, Shanghai menguat 0,22 persen ke 3.949,25, dan Kospi melonjak 1,59 persen ke 7.064,46.
Di sisi lain, Hang Seng melemah 0,14 persen ke 25.283,00 dan Straits Times turun 0,99 persen menjadi 5.710,24. (ant/saf/ipg)








