Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat 74,46 poin atau 1,14 persen ke level 6.599,94 pada penutupan perdagangan Selasa (1/9/2026).
Penguatan IHSG terjadi di tengah sejumlah sentimen positif dari dalam negeri, mulai dari stabilitas inflasi dan surplus neraca perdagangan hingga kepastian kepemimpinan Bank Indonesia (BI) setelah DPR RI menyetujui Destry Damayanti sebagai Gubernur BI periode 2026-2031.
Kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 juga menguat 10,58 poin atau 1,64 persen ke posisi 654,41.
Maximilianus Nico Demus Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas mengatakan penguatan IHSG ditopang persepsi positif investor terhadap kredibilitas fiskal pemerintah.
“Di dalam negeri, IHSG menguat didukung sentimen positif terhadap kredibilitas fiskal pemerintah yang tercermin dari target defisit 2,40 persen pada 2027,” ujar Nico dilansir dari Antara.
Ia menyebut realisasi anggaran pemerintah hingga Juli 2026 masih menunjukkan kinerja yang solid.
Pendapatan negara tumbuh 21,3 persen secara tahunan atau year on year (yoy), sementara belanja negara meningkat 18,2 persen yoy.
Dari sisi inflasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Agustus 2026 sebesar 0,21 persen secara bulanan atau month to month (mtm). Secara tahunan, inflasi tercatat 3,19 persen atau yoy.
Angka tersebut masih berada dalam kisaran sasaran inflasi BI sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.
Selain inflasi yang relatif terjaga, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus. Pada Juli 2026, surplus perdagangan mencapai 120 juta dolar AS setelah sebelumnya mengalami defisit pada Juni.
“Surplusnya neraca perdagangan tentunya akan menopang dan memperkuat stabilitas pasar keuangan dalam negeri,” kata Nico.
Namun, sentimen positif tersebut dibayangi perlambatan aktivitas manufaktur nasional. PMI Manufaktur Global S&P Indonesia turun menjadi 49,8 pada Agustus 2026 dari 50,2 pada Juli.
Posisi di bawah level 50 menunjukkan sektor manufaktur kembali berada di zona kontraksi.
Menurut Nico, kondisi inflasi yang tetap berada dalam sasaran menunjukkan konsistensi kebijakan moneter sekaligus sinergi antara BI dan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga.
Sentimen positif lain datang dari keputusan DPR RI yang mengesahkan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI untuk periode 2026-2031.
Nico menilai keputusan tersebut memberikan kepastian terhadap arah kebijakan moneter Indonesia dan berpotensi meningkatkan kepercayaan investor, baik domestik maupun asing.
“Pengesahan tersebut memberikan kepastian hukum dan arah kebijakan moneter domestik yang kuat, sehingga akan memberikan sinyal menjaga stabilitas, meningkatkan kepercayaan investor domestik maupun asing, serta turut mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah gejolak global,” ujarnya.
Dari pasar global, sentimen cenderung berlawanan. Sejumlah bursa saham Asia bergerak melemah akibat meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Konflik tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Kondisi ini juga berpotensi memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan moneter.
Pernyataan Ketua The Fed Warsh yang menekankan perlunya bukti lebih kuat bahwa inflasi kembali menuju target 2 persen turut menjadi perhatian investor.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September 2026 mencapai lebih dari 65 persen, meningkat dari sekitar 36 persen sebelum pernyataan tersebut.
Meski dibayangi sentimen global, IHSG mampu bertahan di zona hijau sejak pembukaan perdagangan hingga penutupan sesi pertama. Pada sesi kedua, indeks kembali konsisten berada di teritori positif sampai perdagangan berakhir.
Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, sembilan sektor mengalami penguatan. Sektor industri memimpin kenaikan dengan 3,77 persen, disusul sektor teknologi 2,97 persen dan sektor energi 2,56 persen.
Sementara dua sektor mengalami pelemahan. Sektor barang baku turun 0,31 persen, sedangkan sektor infrastruktur melemah 0,15 persen.
Sejumlah saham mencatat kenaikan harga terbesar, yakni SQMI, KKES, AIMS, BSIM, dan SAFE. Sebaliknya, saham RGAS, KICI, HBAT, UDNG, dan AMMS menjadi saham dengan penurunan harga terbesar.
Aktivitas perdagangan juga cukup tinggi. Frekuensi transaksi saham mencapai 2.626.000 kali dengan volume perdagangan 57,89 miliar saham senilai Rp20,70 triliun.
Sebanyak 420 saham ditutup menguat, 233 saham melemah, dan 310 saham tidak mengalami perubahan harga.
Di kawasan Asia, indeks Nikkei Jepang turun 0,19 persen ke 66.188,00. Shanghai Composite menguat 0,16 persen ke 3.979,89, sedangkan Hang Seng Hong Kong turun 0,93 persen ke 25.329,73.
Kospi Korea Selatan menguat 0,23 persen ke 6.835,80, sementara Straits Times Singapura melemah 0,98 persen ke 5.699,21. (ant/saf/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

