Selasa, 4 Agustus 2026

Kementan dan Industri Pakan Tunda Kenaikan Harga untuk Lindungi Peternak

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Ilustrasi. Peternakan ayam. Foto: Pixabay

Kementerian Pertanian (Kementan) bersama industri pakan menyepakati penundaan kenaikan harga pakan ayam sebagai langkah melindungi peternak ayam petelur sekaligus mempercepat pemulihan harga telur di tingkat produsen.

Agung Suganda, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, mengatakan pihaknya telah mempertemukan koperasi peternak ayam petelur dengan industri pakan untuk membahas kenaikan harga pakan yang dikeluhkan peternak, di tengah rendahnya harga telur di tingkat produsen.

“Kami berupaya meningkatkan harga telur sesuai harga acuan, termasuk mencari solusi agar di saat harga telur belum sesuai harga acuan ini, pabrik pakan menunda kenaikan harga pakan sampai kondisi harga telur membaik sebagaimana yang kita harapkan,” kata Agung seperti dilaporkan Antara, Selasa (4/8/2026).

Kementan dan Badan Pangan Nasional (Bapanas), bersama koperasi peternak, industri pakan, Satgas Pangan Polri, BUMN, dan pelaku usaha, menyepakati sejumlah langkah konkret untuk memulihkan harga telur dan menjaga keberlanjutan usaha peternak rakyat — salah satunya penundaan kenaikan harga pakan.

Menurut Agung, industri pakan memahami kondisi peternak sehingga berkomitmen menahan kenaikan harga sambil menunggu harga telur kembali di atas biaya produksi, sebagai dukungan terhadap keberlangsungan usaha peternak rakyat nasional.

Kenaikan harga bahan baku impor, biaya distribusi, maupun nilai tukar rupiah menjadi faktor yang mempengaruhi biaya produksi industri pakan.

“Teman-teman pabrik pakan juga berkomitmen menahan kenaikan harga pakan. Memang sekitar 30 persen bahan baku pakan masih impor sehingga dipengaruhi kenaikan kurs, biaya distribusi, maupun harga bahan baku dunia,” katanya.

Meski begitu, Agung menambahkan, produsen pakan siap menjaga stabilitas harga sebagai dukungan terhadap peternak rakyat yang menyumbang sekitar 98 persen produksi telur nasional.

“Mengingat kondisi harga telur yang masih belum baik, para feedmill (pabrik pakan) sepakat menahan dulu kenaikan harga pakan sambil melihat perkembangan harga telur sehingga keberlanjutan peternak rakyat terus terjaga,” beber Agung.

Ia menyebutkan harga pakan ternak di pasaran saat ini bervariasi, mulai dari Rp9.000 per kilogram untuk pakan broiler, jenis lain berkisar Rp8.000-Rp9.000 per kg, ada pula yang seharga Rp7.000 per kg, bahkan beberapa jenis lain tersedia di bawah Rp6.000 per kg.

Karena itu, Agung mendorong koperasi-koperasi yang menaungi peternak untuk membeli pakan langsung dari pabrik.

“Begitu juga bagi yang melakukan pencampuran mandiri (self-mixing), untuk pembelian SBM-nya (Soybean Meal) bisa langsung ke importir, baik swasta maupun BUMN (PT Berdikari). Kami memfasilitasi pembelian langsung agar harganya tidak terlalu mahal dengan memotong jalur distribusi,” ucapnya.

Untuk menjaga stabilitas harga ayam, pemerintah juga mempercepat penyaluran jagung pakan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) bagi peternak mikro dan kecil, guna menekan biaya produksi selama harga pakan meningkat.

Selain menjaga biaya produksi, pemerintah mendorong peningkatan penyerapan telur lewat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar harga di tingkat peternak segera pulih.

Agung menegaskan, upaya ini merupakan langkah cepat melindungi peternak ayam petelur di tengah harga telur yang masih berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp26.500 per kilogram.(ant/iss/ham)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Kecelakaan Mobil Terguling di Gunungsari Surabaya

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Kecelakaan Beruntun di Gempol, Libatkan 7 Kendaraan

Surabaya
Selasa, 4 Agustus 2026
31o
Kurs