Para pemimpin sejumlah negara anggota BRICS memulai Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) organisasi tersebut pada Sabtu (12/9/2026) di New Delhi, ibu kota India, di tengah situasi perang Amerika Serikat-Iran yang telah memasuki bulan ketujuh serta konflik Rusia-Ukraina yang masih berlanjut hingga tahun kelima.
KTT ini digelar di tengah dampak ekonomi global yang semakin meluas akibat konflik AS-Iran, yang memicu krisis energi sekaligus meningkatkan kekhawatiran terkait keamanan energi, perdagangan, dan inflasi. Demikian laporan Anadolu yang dikutip Antara.
Menjelang pelaksanaan KTT, Narendra Modi, Perdana Menteri India, menyampaikan harapannya agar pembahasan dalam forum tersebut dapat berlangsung “positif” dan “bermakna”. Sementara itu, pihak China menyatakan harapannya untuk dapat “bekerja sama dengan negara-negara BRICS lainnya untuk mendorong dialog dan negosiasi guna menyelesaikan perbedaan serta bersama-sama menjaga perdamaian dan stabilitas regional dan global”.
KTT Pemimpin BRICS ke-18 ini mempertemukan para pemimpin dan pejabat senior dari kelompok yang kini telah berkembang menjadi 11 negara. Kelompok ini terdiri dari anggota lama yakni Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan yang menjadi asal muasal nama BRICS, serta anggota baru yang bergabung belakangan, yaitu Mesir, Ethiopia, Indonesia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Pada hari pertama, para pemimpin membuka rangkaian KTT dengan sesi tertutup khusus negara-negara anggota BRICS bertajuk “Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism” (Tata Kelola Global Inklusif dan Penguatan Multilateralisme). Selain itu, mereka juga dijadwalkan mengunjungi Pameran Bharat Innovates, mengikuti upacara penanaman pohon, serta menghadiri jamuan makan malam yang digelar oleh Modi.
Sejumlah kepala negara yang hadir dalam KTT ini antara lain Xi Jinping, Presiden China; Masoud Pezeshkian, Presiden Iran; Vladimir Putin, Presiden Rusia; Cyril Ramaphosa, Presiden Afrika Selatan; Abdel Fattah el-Sisi, Presiden Mesir; Prabowo Subianto, Presiden Indonesia; Abiy Ahmed Ali, Perdana Menteri Ethiopia; serta Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Putra Mahkota Abu Dhabi. Sementara itu, Brasil diwakili oleh Mauro Vieira, Menteri Luar Negeri, dan Arab Saudi diwakili oleh Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud, Menteri Luar Negeri.
Di tengah ketegangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab—yang seluruhnya merupakan anggota BRICS—sumber pejabat India mengungkapkan bahwa para pemimpin blok tersebut telah “mencapai konsensus mengenai pernyataan bersama”. Pernyataan bersama tersebut diperkirakan akan disiarkan setelah seluruh agenda utama KTT rampung dilaksanakan.
Hari Kedua KTT
Selain para anggota inti, kelompok BRICS juga telah menerima sejumlah negara mitra ke dalam kerangka kerja BRICS, di antaranya Belarus, Bolivia, Kazakhstan, Kuba, Malaysia, Nigeria, Thailand, Uganda, Uzbekistan, dan Vietnam.
Peserta lainnya yang turut hadir antara lain Kassym-Jomart Tokayev, Presiden Kazakhstan; Evariste Ndayishimiye, Presiden Burundi; Ferdinand R. Marcos Jr., Presiden Filipina; Le Minh Hung, Perdana Menteri Vietnam; Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Malaysia; serta Djamshid Kuchkarov, Wakil Perdana Menteri Uzbekistan. Sejumlah negara lain diwakili oleh pejabat setingkat menteri luar negeri, yakni Sihasak Phuangketkeow dari Thailand, Bruno Rodriguez Parrilla selaku Perdana Menteri Kuba, Maxim Ryzhenkov dari Belarus, Mario Lubetkin dari Uruguay, serta Abdullatif bin Rashid Al Zayani dari Bahrain.
Pada hari kedua penyelenggaraan KTT, para pemimpin dijadwalkan menghadiri sesi terbuka bertajuk “Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability: Shaping the Future for Inclusive Global Growth” (Ketahanan, Inovasi, Kerja Sama, dan Keberlanjutan untuk Mewujudkan Pertumbuhan Global yang Inklusif).
Berdasarkan data yang dirilis pihak BRICS, kelompok ini kini diketahui mewakili sekitar 49,5 persen populasi dunia, 40 persen produk domestik bruto (PDB) global, serta 26 persen dari total perdagangan global. Sebagai catatan, KTT BRICS sebelumnya digelar di Rio de Janeiro pada 2025.(ant/iss)

NOW ON AIR SSFM 100

