Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan (Menkeu) mengatakan kemerosotan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi yang diklaim masih bagus dan kuat.
Dia mengatakan tidak akan rencana mengintervensi khusus untuk menggerakkan pasar saham, karena kondisi ekonomi sudah ada di jalur yang positif dan dapat menjadi fondasi perekonomian.
“Kalau dari saya sih tidak ada (intervensi). Yang penting saya jelaskan bahwa kondisi ekonomi kita bagus dan akan membaik terus. Itu harusnya menjadi landasan ke penilaian harga saham,” ujar Purbaya di Kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Purbaya beranggapan, kondisi pasar banyak dipengaruhi sentimen dan rumor yang beredar. Padahal kondisi fiskal dan fundamental ekonomi tetap kuat.
Ia menyinggung munculnnya isu lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s (S&P) akan menurunkan peringkat kredit Indonesia. Katanya, itu hanyalah rumor karena pertemuan dengan pihak S&P bahkan belum dilakukan.
“Karena banyak isu-isu negatif. Yang pasti ketika S&P datang ke sini ada rumor S&P akan men-downgrade. Padahal saya baru mau ketemu nanti malam,” kata Purbaya.
Karenanya Purbaya berharap investor melihat kondisi riil dari sektor keuangan dan finansial bangsa.
“Kalau Anda lihat, kemarin BRI mengumumkan pertumbuhan kreditnya 13 persen lebih. Pertumbuhan profitabilitasnya juga 13 persen lebih. Jadi memang ada perbaikan di sana,” ujarnya.
Sebelumnya, Purbaya menyatakan optimisme IHSG mampu berbalik menguat didukung oleh solidnya fundamental perekonomian. “Saya yakin (IHSG) akan naik lagi karena fondasi ekonomi bagus,” kata Purbaya.
Bendahara Negara itu tidak membidik target khusus level IHSG pada tahun ini. Namun, menurutnya, berbagai indikator perekonomian bisa mendorong IHSG kembali bergerak positif.
Salah satunya yaitu inflasi pada Mei 2026 sebesar 3,08 persen secara tahunan (year on year/yoy) yang masih dalam rentang target Bank Indonesia 2,5 plus minus 1 persen.
Purbaya menilai gejolak IHSG saat ini bersifat kekhawatiran jangka pendek, yang dipengaruhi oleh isu-isu negatif di dalam negeri. Padahal, kata dia, permintaan domestik masih menunjukkan kinerja yang stabil.
Menkeu berpendapat, daya beli masyarakat masih kuat yang terlihat dari ramainya aktivitas publik, baik di Jakarta maupun daerah, serta permintaan terhadap kebutuhan tersier, misalnya tempat hiburan dan hotel.(lea/bil/ham)
NOW ON AIR SSFM 100

