Pemerintah menyiapkan kebijakan tersebut setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan El Nino telah mencapai kategori kuat dan berpotensi meningkat menjadi sangat kuat.
Teuku Faisal Fathani Kepala BMKG mengatakan hasil pemantauan menunjukkan indeks El Niño-Southern Oscillation (ENSO) mencapai +1,59. Kondisi tersebut diperkirakan membuat curah hujan pada Agustus hingga September 2026 berada pada kategori rendah hingga sangat rendah.
Musim hujan diproyeksikan mulai berlangsung pada pertengahan Oktober 2026. Dampak El Nino terutama berpotensi dirasakan di wilayah selatan garis khatulistiwa, meliputi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Jawa, Sumatera bagian selatan, dan Papua bagian selatan.
BMKG memperingatkan kondisi itu dapat memengaruhi sektor pertanian, ketersediaan air bersih, pengelolaan waduk dan irigasi, energi, kesehatan, perikanan, serta aktivitas ekonomi masyarakat. Risiko kebakaran hutan dan lahan juga diperkirakan meningkat selama periode kemarau. (ant/ham/rid)

NOW ON AIR SSFM 100

