Prabowo Subianto Presiden RI menargetkan angka kemiskinan nasional turun ke kisaran 6–6,5 persen pada 2027. Target tersebut lebih rendah dibandingkan sasaran 2026 yang berada di rentang 6,5–7,5 persen.
Target itu disampaikan Presiden dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-19 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025–2026 di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Prabowo menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026 harus berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Pertumbuhan tersebut harus tercermin pada meningkatnya kesejahteraan rakyat secara nyata. Karena itu angka kemiskinan ditargetkan turun ke rentang 6,0 hingga 6,5 persen, dari target sebelumnya 6,5 hingga 7,5 persen,” ujar Prabowo.
Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka ditekankan, harus turun pada rentang 4,30 hingga 4,87 persen, dari target sebelumnya 4,44 hingga 4,96 persen.
Kemudian rasio Gini ditargetkan membaik pada rentang 0,362 hingga 0,367, dari target sebelumnya 0,377 hingga 0,380.
“Jarak antara yang terkaya dan yang termiskin tidak boleh semakin lebar, bahkan harus kita perjuangkan untuk terus menyempit. Dengan berbagi program prioritas di bidang sumber daya manusia, indeks modal manusia ditargetkan membaik menjadi 0,575 dari sebelumnya 0,570,” katanya.
Prabowo mengatakan, program ini akan didorong peningkatan sektor pertanian.
“Dibantu berbagi program di bidang pertanian, indeks kesejahteraan petani ditargetkan meningkat menjadi 0,8038 dari sebelumnya 0,7731. Nilai tukar petani atau NTP yang sekarang sudah mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah di angka 126, harus kita perjuangkan untuk bisa kita tingkatkan lagi,” ujarnya.
Presiden juga menyampaikan, pemerintah bakal membuka lapangan kerja secara besar-besaran. Ditargetkan proporsi lapangan kerja formal meningkat menjadi 40,81 persen di tahun 2007, dari sebelumnya 35,00 persen di tahun 2026. Di mana angka ini naik 5,81 persen. (lea/saf/faz)

NOW ON AIR SSFM 100

