Menurut Prof. Putu, lonjakan kekayaan pada kelompok elit ini berpotensi memperlebar jurang ketimpangan ekonomi di Tanah Air.
Dia menjelaskan, saat ini sebanyak 1 persen populasi teratas di Indonesia tercatat menguasai sekitar 20 persen dari total kekayaan nasional. Walaupun angka Gini Ratio Indonesia berada di level 0,368, Prof. Putu menyebut kalau standar pengukuran yang digunakan pemerintah domestik berbeda dengan kriteria lembaga internasional seperti Bank Dunia (World Bank).
Meski Indonesia memiliki kekuatan pasar domestik yang sangat besar dengan populasi mencapai lebih dari 280 juta jiwa, potensi ini belum termanfaatkan secara maksimal. Indonesia kerap kali hanya dijadikan sebagai sasaran pasar konsumsi belaka oleh para pelaku usaha global.
Prof. Putu menyayangkan banyaknya investor asing, bahkan pengusaha kaya asal Indonesia sendiri, yang lebih memilih untuk menanamkan kembali modalnya atau membangun pabrik di negara tetangga, seperti Vietnam. Hal ini disebabkan oleh sistem birokrasi di negara-negara tersebut yang dinilai lebih sederhana dan memberikan kepastian regulasi yang jauh lebih baik.
“Padahal, pusat pertumbuhan ekonomi dunia saat ini telah bergeser ke kawasan Asia Tenggara, yang dipicu oleh pesatnya perkembangan ekonomi dua negara raksasa, yaitu China dan India. Indonesia seharusnya bisa mengambil peran strategis dan memimpin momentum ini,” tambahnya.
NOW ON AIR SSFM 100

