Jumat, 26 Juni 2026

Purbaya: Defisit Fiskal di Bawah 3 Persen karena Harga Minyak Turun

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan
Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan di kantor Kementerian Keuangan, Jumat (26/6/2026). Foto Lea Citra Santi Baneza suarasurabaya.net

Pemerintah memprediksi harga minyak dunia akan terus turun di tengah menurunnya eskalasi ketegangan geopolitik global.

Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan mengatakan, pemerintah masih memiliki ruang fiskal yang luas. Sehingga bisa menjaga defisit di bawah 3 persen.

“Tapi yang jelas, kondisi fiskal aman, defisit tidak akan melebihi 3 persen hampir pasti. Kita bisa kendalikan dengan baik karena ruangnya semakin terbuka lebar, termasuk harga minyak dunia yang turun berapa sekarang? Mau mendekati 70 dolar, 72-73. Saya pikir akan turun terus. Jadi aman,” kata Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (26/6/2026).

Sebelumnya Kementerian Keuangan memastikan kondisi fiskal tetap sehat dan sustainable di tengah ketidakpastian perekonomian global. Ia mengklaim fundameltal ekonomi tetap solid, karena didukung tingkat pendapatan Indonesia yang mencapai Rp1.185 triliun per Mei 2026.

“Jika dibandingkan dengan negara G20 dan beberapa negara lainnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia ada di level yang relatif lebih tinggi. Demikian pula dengan kinerja fiskal Indonesia. Sampai akhir Mei 2026, pendapatan negara telah tercapai sebesar Rp1.185 triliun dengan defisit yang terkendali,” ungkap Purbaya.

Bendahara Negara mengatakan, tingkat pendapatan negara tersebut diklaim menunjukkan stabilitas ekonomi dan keberlanjutan fiskal Indonesia tetap terjaga.

Meski begitu, Purbaya mengakui kondisi perekonomian belakangan tetap menantang dan penuh risiko. Sehingga ke depan, pemerintah akan terus mewaspadai dan mencermati kondisi perekonomian global. Di sisi lain, pemerintah juga terus menjaga tingkat defisit dan inflasi.

“Pada triwulan pertama tahun 2026, ekonomi Indonesia berhasil tumbuh tinggi mencapai 5,61 persen dengan inflasi terkendali, neraca perdagangan yang mengalami surplus hingga 72 bulan dan cadangan devisa yang memadai untuk sekitar enam bulan impor,” ungkapnya.

Sampai saat ini Kemenkeu mencatat kinerja ekonomi Indonesia masih tumbuh dan positif, di mana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap dioptimalkan sebagai shock absorber (peredam gejolak ekonomi) serta agent of development (agen pembangunan).

Pemerintah mengklaim akan terus menjaga daya beli, stabilitas ekonomi dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi ke depan.

“Sementara itu, pertumbuhan kredit dan uang beredar tercatat double digit didorong oleh kuatnya kredit investasi dan likuiditas perekonomian. Aktivitas manufaktur juga menunjukkan kinerja yang ekspansif. Kinerja ekonomi Indonesia juga pada posisi yang lebih baik dalam perspektif global,” imbuhnya.(lea/wld/iss)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi Diujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Jumat, 26 Juni 2026
29o
Kurs