Rabu, 1 Juli 2026

Rabu Sore, Rupiah Melemah Akibat Ketidakpastian Negosiasi AS-Iran

Laporan oleh Wildan Pratama
Bagikan
Ilustrasi - Rupiah dan Dolar AS. Foto: iStock

Nilai tukar (kurs) Rupiah pada penutupan perdagangan Rabu (1/7/2026) sore melemah 45 poin atau 0,25 persen menjadi Rp17.952 per Dollar AS, dari sebelumnya Rp17.907 per Dollar AS.

Ibrahim Assuaibi Analis Pasar Uang menjelaskan, faktor pelemahan Rupiah dipengaruhi ketidakpastian negosiasi perdamaian AS dan Iran.

“Ketidakpastian atas kemajuan negosiasi perdamaian AS-Iran mempertahankan premi risiko geopolitik di pasar, bahkan ketika produksi minyak mentah AS yang mencapai rekor tertinggi menggarisbawahi peningkatan pasokan global,” kata Ibrahim, mengutip Antara (1/7/2026).

Para pedagang disebut tetap fokus pada perkembangan di Qatar setelah Iran menolak pembicaraan langsung dengan utusan senior AS yang telah melakukan perjalanan ke wilayah tersebut, dan malah mengatakan bahwa setiap diskusi akan dilakukan melalui mediator di tingkat teknis.

Pergeseran itu dinilai mengaburkan prospek kesepakatan cepat untuk mengubah gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua pekan menjadi kesepakatan perdamaian yang utuh.

Di sisi lain, terjadi penurunan tajam harga minyak mentah pasca konflik Iran. Harga Brent anjlok sekitar 38 persen selama kuartal kedua setelah melonjak sekitar 94 persen pada kuartal pertama, menandai penurunan kuartal tercuram sejak penurunan rekor 66 persen pada kuartal pertama tahun 2020.

Patokan global ini juga turun sekitar 21 persen pada bulan Juni setelah penurunan 19 persen pada bulan Mei, penurunan bulanan terbesar sejak Maret 2020, karena kekhawatiran akan gangguan pasokan yang berkepanjangan melalui Selat Hormuz mereda.

“Tidak adanya pembicaraan langsung telah memperkuat ketidakpastian tentang seberapa cepat Washington dan Teheran dapat menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan dalam kerangka negosiasi 60 hari mereka, termasuk masa depan Selat Hormuz,” katanya.

Selain itu, lanjut Ibrahim, data pasar tenaga kerja AS pekan ini akan dipantau dengan cermat untuk mendapatkan petunjuk baru tentang langkah kebijakan Fed selanjutnya.

Sementara, dalam laporan JOLTS pada Selasa (30/6/2026) menunjukkan lowongan kerja naik menjadi 7,594 juta pada bulan Mei, melampaui ekspektasi pasar sebanyak 7,3 juta.

Indeks Kepercayaan Konsumen Conference Board AS pada bulan Juni membaik karena kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran menurunkan harga bahan bakar.

“Perhatian sekarang beralih ke laporan Perubahan Ketenagakerjaan ADP yang akan dirilis malam ini, diikuti oleh laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada hari Kamis (2/7), yang akan dirilis sehari lebih awal di tengah pekan yang dipersingkat karena hari libur AS,” ujar dia.

Melihat sentimen dalam negeri, pasar merespon negatif terhadap rilis data Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) pada Mei 2026 defisit 1,61 miliar dolar AS. Defisit ini merupakan defisit pertama sejak 6 tahun lalu.

“Kondisi defisit itu disebabkan nilai impor yang lebih tinggi dari ekspor, yakni sebesar 24,81 miliar dolar AS, sedangkan ekspor RI 23,20 miliar dolar AS. Ini adalah defisit pertama RI sejak surplus selama 72 bulan beruntun sejak Mei 2020,” ungkapnya.(ant/wld/rid)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Rabu, 1 Juli 2026
26o
Kurs