“Sentimen yang akan mempengaruhi pergerakan rupiah pekan depan adalah rilis data Core CPI Amerika Serikat. Jika inflasi inti lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi pasar terhadap suku bunga tinggi The Fed akan kembali menguat. Kondisi tersebut berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan memberi tekanan pada rupiah,” ungkapnya.
Sementara itu, jika inflasi lebih rendah dari ekspektasi, ia mengatakan bahwa peluang pelemahan dolar AS akan semakin besar sehingga dapat memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat.
Ia mengatakan bahwa pasar juga akan mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah karena dapat mempengaruhi pergerakan harga minyak dunia dan minat investor terhadap aset safe haven. Begitu pula dengan arus modal asing dan langkah stabilisasi Bank Indonesia yang disebut akan tetap menjadi faktor penting dalam menentukan arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
Oleh karena itu, ia menyebut, tukar rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp18.000-Rp18.128 per dolar AS dalam sepekan ke depan.
Seperti diketahui, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat di level Rp18.069 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.090 per dolar AS.(ant/ris/faz)

NOW ON AIR SSFM 100

