Nilai tukar rupiahmenguat pada penutupan perdagangan Selasa (21/4/2026), di tengah dinamika ketidakpastian global.
Rupiah naik 25 poin atau 0,15 persen ke level Rp17.143 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.168 per dolar AS.
Ibrahim Assuaibi pengamat ekonomi mata uang dan komoditas mengatakan, penguatan rupiah didorong oleh ketahanan fundamental ekonomi Indonesia, meskipun tekanan geopolitik global masih membayangi.
“Pemerintah berupaya meningkatkan investasi dengan memastikan ekonomi nasional tumbuh sesuai target dan menyelaraskan kebijakan fiskal dengan realisasinya demi menciptakan perbaikan kondisi ekonomi secara berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Ibrahim, Indonesia saat ini tengah mengarahkan strategi pembangunan pada pertumbuhan yang lebih produktif dan bernilai tambah, dengan fokus pada penciptaan lapangan kerja berkualitas.
Transformasi tersebut ditopang oleh tiga pilar utama, yakni investasi, industrialisasi, dan peningkatan produktivitas.
Dilansir dari Antara, ia juga menilai kinerja ekonomi nasional relatif solid dibandingkan negara-negara dalam G20 maupun negara berkembang lainnya. Stabilitas ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang terjaga, inflasi yang rendah, serta defisit fiskal dan rasio utang yang tetap terkendali.
Peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dinilai krusial sebagai peredam gejolak (shock absorber) dalam menjaga daya beli masyarakat, sekaligus mempertahankan disiplin fiskal di bawah batas defisit 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Indonesia akan mengoptimalkan sinergi kebijakan fiskal, moneter, serta memanfaatkan peran Danantara dalam mobilisasi investasi di luar APBN,” kata Ibrahim.
Di tengah tekanan harga global, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun tercatat meningkat namun masih berada dalam asumsi yang ditetapkan pemerintah. Kondisi ini mencerminkan kredibilitas kebijakan ekonomi nasional dalam merespons dinamika global, termasuk kenaikan harga energi.
Meski sempat terjadi arus keluar devisa sebesar 1,8 miliar dolar AS yang menekan nilai tukar, Ibrahim menilai kondisi fiskal Indonesia tetap terjaga.
“Defisit fiskal tetap di bawah 3 persen dan cadangan devisa masih memadai. Ini menunjukkan kredibilitas makrofinansial Indonesia berfungsi dengan baik, terutama dalam menjaga ketahanan energi,” jelasnya.
Di sisi lain, pasar global masih dibayangi ketegangan geopolitik, khususnya terkait ketidakpastian hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Gencatan senjata yang rapuh diperkirakan berakhir pada Rabu, 22 April 2026, di tengah sinyal minimnya peluang perpanjangan kesepakatan.
Donald Trump Presiden AS disebut telah mengirim delegasi yang dipimpin JD Vance Wakil Presiden AS untuk melanjutkan pembicaraan di Pakistan. Namun, pihak Iran mengindikasikan negosiasi sulit dilakukan selama blokade angkatan laut masih berlangsung.
Ketegangan meningkat setelah laporan penangkapan kapal berbendera Iran oleh militer AS, yang memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga mencatat penguatan rupiah ke level Rp17.142 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.176 per dolar AS. (ant/saf/faz)
NOW ON AIR SSFM 100
