Serangan tersebut disebut sebagai respons terhadap serangan yang dipimpin Arab Saudi di Yaman.
Arab Saudi belum mengonfirmasi serangan tersebut. Kondisi itu memunculkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan dampaknya terhadap produksi minyak negara tersebut, yang merupakan salah satu eksportir utama energi di kawasan.
“Mereka mengklaim serangan tersebut menyebabkan kebakaran hebat dan merupakan tanggapan atas apa yang mereka sebut sebagai 50 serangan udara dan rudal yang dipimpin Saudi di Yaman dalam 12 jam terakhir,” ujar Ibrahim dilansir dari Antara.
Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga menantikan sejumlah agenda ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi arah dolar AS dan mata uang global.
Agenda tersebut antara lain data ISM Services PMI, data ketenagakerjaan mingguan, risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terakhir, serta data sentimen konsumen yang dirilis University of Michigan.

NOW ON AIR SSFM 100

