Selasa, 1 September 2026

Rupiah Melemah ke Rp17.744 per Dolar AS, Harga Minyak Naik akibat Konflik AS-Iran

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi - Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. Foto: Antara

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada penutupan perdagangan Selasa (1/9/2026).

Rupiah turun 22 poin atau 0,12 persen menjadi Rp17.744 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.722 per dolar AS.

Rully Nova Analis Bank Woori Saudara mengatakan, pelemahan rupiah terutama dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia yang mencapai sekitar 91 dolar AS per barel di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara AS dan Iran.

“Rupiah pada perdagangan hari ini melemah dipengaruhi oleh global kenaikan harga minyak seiring meningkatnya eskalasi konflik AS dan Iran,” ujar Rully.

Kenaikan harga minyak menjadi perhatian pasar karena konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi sentimen investor terhadap aset-aset negara berkembang, termasuk rupiah.

Dilansir dari Antara, ketegangan AS-Iran kembali meningkat setelah pasukan AS menghantam dua peluncur rudal Iran di Pulau Larak pada Minggu (30/8/2026).

Serangan tersebut menjadi aksi militer pertama AS terhadap wilayah Iran sejak akhir Juli setelah sekitar satu bulan jeda keterlibatan langsung.

Serangan itu menargetkan sistem rudal yang diduga tengah dipersiapkan untuk meluncurkan roket bermuatan ranjau laut ke kawasan Selat Hormuz, salah satu jalur strategis perdagangan minyak dunia.

Sebagai respons, laporan Sputnik menyebut pasukan bersenjata Iran melancarkan serangan terhadap posisi militer AS di Yordania.

Selain sentimen geopolitik dan harga minyak, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari perkembangan pasar keuangan AS.

Ekspektasi inflasi AS serta kenaikan yield obligasi pemerintah AS turut menjadi perhatian investor.

Rully mencatat ekspektasi inflasi AS berada di level 0,39 persen secara bulanan dan 3,6 persen secara tahunan.

Sementara itu, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 5,8 basis points menjadi 4,77 persen. Yield obligasi tenor 20 tahun juga meningkat 6,7 basis points menjadi 5,27 persen.

Kenaikan yield obligasi AS dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar AS dan pada saat yang sama memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Di tengah pelemahan rupiah berdasarkan transaksi pasar, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia justru tercatat menguat.

JISDOR Bank Indonesia pada Selasa berada di level Rp17.727 per dolar AS, menguat dari posisi sebelumnya Rp17.746 per dolar AS. (ant/saf/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Surabaya
Selasa, 1 September 2026
28o
Kurs