Rabu, 2 September 2026

Rupiah Melemah ke Rp17.774 per Dolar AS, Tertekan Konflik AS-Iran dan Harga Minyak

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi. Kurs rupiah turun. Foto: suarasurabaya.net

Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Rabu (2/9/2026), seiring meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Kenaikan harga minyak mentah dunia serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed turut membebani mata uang Garuda.

Rupiah dibuka melemah 30 poin atau 0,17 persen menjadi Rp17.774 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.744 per dolar AS.

Rully Nova Analis Bank Woori Saudara memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut sepanjang perdagangan hari ini, terutama jika harga minyak global terus meningkat akibat ketegangan geopolitik.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp17.750-Rp17.820 dipengaruhi oleh global masih berlanjutnya kenaikan harga minyak seiring meningkatnya eskalasi konflik AS dan Iran,” kata Rully dilansir dari Antara.

Eskalasi konflik AS-Iran menjadi salah satu sentimen utama yang diperhatikan pelaku pasar. Kenaikan tensi geopolitik berpotensi mengerek harga minyak mentah karena pasar mengantisipasi gangguan terhadap pasokan energi global.

Kenaikan harga minyak kemudian dapat memperbesar tekanan inflasi di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat.

Kondisi tersebut membuat pasar kembali meningkatkan perhatian terhadap arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed).

Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September 2026 kini meningkat tajam. Menurut Rully, probabilitas kenaikan suku bunga yang diperkirakan pelaku pasar telah mencapai 66 persen, naik dari sebelumnya 35 persen.

“Ekspektasi pelaku pasar terkait kenaikan suku bunga oleh The Fed per September meningkat menjadi 66 persen dari sebelumnya hanya 35 persen. Kenaikan bunga diperkirakan 25 bps (basis points) menjadi 4 persen,” ujarnya.

Kenaikan suku bunga AS berpotensi memperkuat dolar karena aset berdenominasi dolar menjadi lebih menarik bagi investor.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga datang dari menyempitnya surplus neraca perdagangan. Permintaan dolar AS untuk kebutuhan impor yang meningkat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026 masih membukukan surplus 3,70 miliar dolar AS.

Namun, perkembangan inflasi domestik turut menjadi perhatian. Inflasi Indonesia pada Agustus 2026 tercatat 0,21 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm). (ant/saf/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Surabaya
Rabu, 2 September 2026
32o
Kurs