Senin, 8 Juni 2026

Rupiah Melemah ke Rp18.188 per Dolar AS, Ini Penyebabnya

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi - Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. Foto: Antara

Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Senin (8/6/2026) hari ini. Rupiah ditutup melemah cukup tajam sebesar 152 poin atau 0,84 persen ke level Rp18.188 per dolar AS, dari posisi sebelumnya di Rp18.036 per dolar AS.

Ibrahim Assuaibi pengamat pasar uang menilai, tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya setelah meningkatnya eskalasi konflik antara Israel dan Iran yang kembali memicu kekhawatiran pasar global.

Menurutnya, situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran baru di pasar energi dunia, terutama terkait potensi gangguan distribusi minyak mentah melalui Selat Hormuz, salah satu jalur pengiriman energi paling strategis di dunia.

“Suara ledakan terdengar di Teheran, Tabriz, dan Isfahan, mengikis harapan akan segera berakhirnya perang yang lebih luas dan dimulainya kembali aliran minyak mentah melalui Selat Hormuz,” ujar Ibrahim dilansir dari Antara.

Ia menjelaskan, Israel disebut kembali melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk fasilitas petrokimia di wilayah barat daya serta sejumlah titik militer lainnya. Situasi ini terjadi di tengah upaya diplomatik yang belum berhasil meredakan ketegangan kawasan.

Di sisi lain, Donald Trump Presiden Amerika Serikat(AS) dilaporkan telah meminta Benjamin Netanyahu Perdana Menteri Israel untuk menahan diri dari eskalasi lanjutan. Namun, serangan balasan tetap terjadi, termasuk aksi Iran yang meluncurkan rudal ke sejumlah target di Israel.

Ketegangan juga meluas ke Lebanon, di mana Israel dilaporkan menyerang pinggiran selatan Beirut sebagai respons atas serangan kelompok Hizbullah. Menurut Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), serangan tersebut menghantam dua apartemen di kawasan permukiman, meski tidak ada laporan korban jiwa.

Hizbullah sendiri diketahui terus melancarkan operasi militer sebagai balasan atas serangan Israel yang masih berlangsung di wilayah Lebanon selatan. Situasi ini semakin memperkuat kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik regional yang lebih luas.

Di tengah kondisi geopolitik yang memanas, data ekonomi Amerika Serikat justru menunjukkan penguatan. Laporan non-farm payrolls (NFP) mencatat tambahan 172 ribu pekerjaan pada Mei, jauh di atas ekspektasi pasar sebesar 85 ribu. Sementara tingkat pengangguran tetap stabil di level 4,3 persen.

Menurut Ibrahim, data tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan ini turut memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan jika tekanan inflasi dari harga energi meningkat.

“Laporan NFP yang lebih kuat dari perkiraan mendukung argumen bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah atau bahkan menaikkannya,” jelasnya.

Sementara itu, Bank Indonesia juga mencatat pelemahan rupiah melalui kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang turun ke level Rp18.171 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp18.039 per dolar AS. (ant/saf/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Gerbang King Abdulaziz Masjidil Haram

Abraj Al Bait, Makkah Royal Clock Tower

Surabaya
Senin, 8 Juni 2026
28o
Kurs