Kamis, 4 Juni 2026

SBY: Pertumbuhan Ekonomi Tak Cukup Jadi Ukuran Keberhasilan Pembangunan di Tengah Ketidakpastian Global

Laporan oleh Akira Tandika Paramitaningtyas
Bagikan
Susilo Bambang Yudhoyono Presiden Ke-6 RI usai bertakziah atas wafatnya mantan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono di Gedung Kementerian Pertahanan, Jakarta, Minggu (29/3/2026). Foto: Antara

Susilo Bambang Yudhoyono Presiden ke-6 RI menilai pertumbuhan ekonomi tidak lagi cukup menjadi ukuran keberhasilan pembangunan di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Hal itu disampaikan SBY saat menghadiri acara The 2026 Asia Grassroots Forum by Amartha di Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Menurut SBY, tantangan negara-negara berkembang saat ini bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi cepat, melainkan membangun pertumbuhan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

“Karena pertumbuhan saja tidak lagi cukup. Sebuah negara bisa mencatat pertumbuhan ekonomi yang mengesankan, tetapi tetap menghadapi ketimpangan yang melebar, menurunnya kepercayaan masyarakat, dan fragmentasi sosial,” kata SBY, melansir Antara.

Ia menambahkan tantangan pembangunan saat ini bukan hanya mendorong ekonomi tumbuh, tetapi juga memperkuat ketahanan masyarakat di tengah ketegangan geopolitik, perubahan iklim, dan perkembangan teknologi yang cepat.

SBY juga menekankan pentingnya memperluas partisipasi ekonomi dan memastikan manfaat pertumbuhan dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat.

Menurut dia, pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus memperluas inklusi.

Lebih lanjut, SBY menilai model pertumbuhan ekonomi Asia juga perlu bertransformasi.

Ia mengatakan kawasan ini tidak dapat terus bergantung pada tenaga kerja berbiaya rendah, komoditas, dan konsumsi domestik sebagai motor utama pertumbuhan.

Menurut dia, pertumbuhan di kawasan perlu ditopang oleh peningkatan produktivitas, kewirausahaan, inovasi, digitalisasi, dan penguatan kualitas sumber daya manusia.

“Di masa depan, daya saing tidak lagi hanya bergantung pada siapa yang memproduksi lebih murah. Daya saing akan bergantung pada siapa yang mampu beradaptasi dengan cepat, terus berinovasi, berinvestasi pada manusia,” tutupnya.(ant/kir/faz)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Perjalanan Menuju Arafah

Gerbang King Abdulaziz Masjidil Haram

Abraj Al Bait, Makkah Royal Clock Tower

Kubah Masjid Ghamamah

Surabaya
Kamis, 4 Juni 2026
32o
Kurs