Selasa, 19 Januari 2021

Aplikasi Bisnis Kancadele Bantu Pelaku Usaha Kedelai

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Tim mahasiswa ITS Surabaya pencipta aplikasi bisnis Kancadele. Foto: Humas ITS Surabaya

Kancadele sebuah aplikasi bisnis karya tim mahasiswa ITS menjawab harga kedelai lokal yang tetap mahal dibanding Kedelai impor.

Adalah Muhammad Arif Setiadi, Nur Aeni Elmi, dan Asmaul Khusna yang merancang aplikasi inovatif tersebut sebagai upaya menyelesaikan permasalahan impor kedelai di Indonesia. Ketiganya mahasiswa dari Departemen Teknik Industri ITS.

Muhammad Arif Setiadi beranggapan bahwa kualitas kedelai lokal saat ini masih belum bisa bersaing dengan kedelai impor.

“Oleh karena itu, aplikasi Kancadele ini kami hadirkan untuk membantu pemasaran kedelai lokal dan edukasi untuk petani kedelai lokal,” terang Arif Setiadi.

Arif menjelaskan, aplikasi Kancadele akan membantu menyederhanakan rantai pasok antara petani Kedelai lokal dengan pengrajin olahan kedelai seperti pembuat tahu, tempe, dan susu kacang kedelai.

Sehingga harga asli kedelai dari petani tidak dapat berubah atau meningkat karena dipengaruhi oleh para tengkulak, seperti distributor dan wholesaler.

Ditambahkan Arif bahwa visi dari aplikasi ini adalah bisa membantu produk Kedelai lokal Indonesia untuk menjadi lebih unggul daripada produk impor.

Dengan begitu, Kancadele dapat membantu menyejahterakan petani kedelai dan Indonesia tidak ketergantungan dengan kedelai impor.

Disinggung soal nama Kancadele, Arif mengaku terinspirasi dari bahasa Jawa. Ia menjelaskan, Kancadele sendiri merupakan gabungan dari dua kata, yakni kanca yang berarti teman, dan dele yang merupakan pengucapan kata kedelai dalam bahasa Jawa.

“Melalui nama tersebut diharapkan aplikasi Kancadele ini dapat menjadi teman bagi petani Kedelai dan pelaku industri kacang kedelai di Indonesia,” tambah Arif.

Berbekal ide bisnis Kancadele tersebut, tim ini pun telah sukses meraup dua gelar juara sekaligus sebagai juara kedua dan ketiga pada kompetisi ide bisnis, beberapa waktu lalu.

Dua kompetisi tersebut yakni Business Plan Competition Hology (House of Technology) dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya dan pada ajang Agribusiness Business Plan Competition (ABPC) 2018 dari Departemen Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran.(tok/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Mogok di Manyar Gresik

Jeglongan di Wedi Gedangan

Jalan Rusak di Brigjend Katamso Sudah Ditambal

… Lewati Lembah, Sungai Mengalir, Eh Bukan

Surabaya
Selasa, 19 Januari 2021
25o
Kurs