Rabu, 26 Februari 2020

Inovasi Pertanian Digital UMM Ini Bisa Diproduksi dengan Harga Murah

Laporan oleh Anggi Widya Permani
Bagikan
Tim FPP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama inovasi pertanian digital yang diusung di ajang IAGC di Singapura meraih medali emas, akhir pekan lalu. Foto: Antara

Inovasi bidang pertanian berbasis digital oleh mahasiswa Fakultas Pertanian dan Peternakan, Universitas Muhammadiyah Malang (FPP UMM) meraih medali emas di ajang Advanced Innovation Global Competition (AIGC) di Nanyang Tecnological University, Singapura, akhir pekan lalu.

“Prospek pengembangan pertanian semakin terbuka lebar seiring meningkatnya kebutuhan pangan dunia. Namun, di sisi lain, terjadi pengurangan ketersediaan pangan berkualitas dan bersih dari bahan kimia sebagai bahan pangan yang baik bagi kesehatan,” kata Faza Abdurrahman Fiddin anggota tim FPP UMM dikutip Antara, Sabtu (23/11/2019).

Penerapan inovasi pertanian digital menjadi salah satu solusi. Inovasi itu bisa digunakan dalam pertanian skala besar maupun kecil. Harapannya, dengan ide ini, pertanian Indonesia mampu menyediakan bahan pangan sehat dan dapat menjaga ketahanan pangan.

Faza menerangkan, prototipe inovasi alat pertanian digital yang mereka buat menggunakan media tanam cocopeat dan sebuah alat dari akrilik untuk menambah kesan futuristik di dalam ruangan atau rumah. Sistem pengairannya menggunakan metode irigasi tetes.

“Sistem pertanian digital ini dapat dikontrol melalui smartphone yang merupakan iklim mikro tanaman. Mulai dari kelembaban dan temperatur sekitar tanaman, kebutuhan air, sampai intensitas cahaya,” katanya.

Faza meyakini teknik ini akan menjadi gaya hidup baru masyarakat urban, setelah sebelumnya banyak yang mulai bertanam tanpa tanah dengan cara hidroponik.

Melalui inovasi itu, kata Faza, bercocok tanam lebih mudah, menyenangkan, efisien, hemat waktu, tidak perlu pekarangan, serta akan mendapat pangan organik yang sehat karena bebas hama, pestisida, dan pupuk kimia.

“Meski sedang bepergian, kita dapat tetap memantau pertumbuhan tanaman dari jarak jauh melalui gawai di tangan. Ke depan alat ini dapat membantu masyarakat urban untuk menyediakan makanan organik di rumahnya. Dengan aktivitas tinggi masyarakat urban, mereka tetap dapat bertani hanya dengan mengontrol menggunakan smartphone,” ujar Faza.

Bahkan, lanjut Faza, alat ini juga mampu mempercepat pertumbuhan tanaman menggunakan medan elektromagnetik dan bakteri sebagai pupuk penyedia nutrisi tanaman. Inovasi inilah yang pada akhirnya banyak dilirik sejumlah kalangan.

Mahasiswa program studi Agroteknologi semester tujuh ini mengatakan, timnya menyusun inovasi teknologi itu untuk membuktikan bahwa pertanian dapat diterapkan berbasis teknologi industri 4.0 yang menuntut digitalisasi semua bidang.

Semangat lainnya, juga untuk menyediakan bahan pangan segar organik dengan pertumbuhan yang cepat. Pada pertanian manual, kata Faza, menanam sayur akan memerlukan waktu sekitar 21 sebelum panen. Dengan alat yang mereka buat, panen bisa dilakukan 12-14 hari saja.

Soal kemungkinan produksi massal, Faza mengaku optimistis. “Produksi massal tentu bisa. Kendalanya ada di pemasaran, sebab akan bersaing dengan produk pertanian tradisional dan pemahaman keunggulan dari alat ini serta hasil dari produknya,” ujarnya.

Menyinggung biaya yang diperlukan untuk membuat alat inovatif tersebut, Faza mengatakan, hanya sekitar Rp500 ribu untuk satu alat.

Erfan Dani pembimbing tim mengemukakan persiapan yang dilakukan tim mencakup perancangan alat, pembuatan desain, pembuatan power point presentasi, serta poster dan brosur pameran. Koordinasi tim dan pembagian tugas kerja dan manajerial adalah kunci keberhasilan mereka.

“Tidak hanya itu, mahasiswa UMM tidak perlu takut untuk mengembangkan diri dengan mengikuti perlombaan internasional dan bersaing dengan perguruan tinggi ternama di dunia,” ucapnya.

Selain Faza, anggota tim FPP yang meraih medali emas di Singapura antara lain Siti Agus Tina, Zellin Maylinda Rizky Islami, Anisa Nur Utami, dan Nikmatul Rizky Isroikha. Mereka dibimbing oleh dosen Erfan Dani.

Tim FPP meraih medali ems setelah menyisihkan ratusan peserta dari berbagai negara untuk menciptakan Integrated Electrical Accelerator Plant Growth With Led Cultivation And Indigenous Microbial Fertilizers Controlled Irrigation System on Smart Farming Technology. Mereka juga mengungguli ratusan universitas di dunia, seperti dari Inggris, Amerika Serikat, dan Jepang. (ant/ang)

Berita Terkait