Senin, 28 September 2020

Mahasiswa ITS Bikin Detektor Suhu Terintegrasi

Laporan oleh Agung Hari Baskoro
Bagikan
Tampilan sistem pendeteksi suhu terintegrasi yang memanfaatkan kecerdasan buatan bernama TT - Techno Temperature. Foto : ITS

Lima mahasiswa Departemen Teknik Instrumentasi Fakultas Vokasi ITS membuat sistem pendeteksi suhu terintegrasi yang memanfaatkan kecerdasan buatan bernama TT – Techno Temperature.

Tekonologi TT-Techno Temperature yang menggunakan kamera thermal Flir Lepton memungkinkan alat secara otomatis mengenali pola suhu tubuh menggunakan sensor LWIR dan langsung terintegrasi dengan pemerintah dan rumah sakit.

Lukman Arif Hadianto, ketua Tim mengatakan, teknisnya, apabila terdeteksi suhu tubuh di atas nilai ambang batas, maka kamera secara otomatis mengambil gambar wajah manusia dan mengirimkan data tersebut ke pengguna aplikasi ini serta membunyikan alarm untuk peringatan.

Selanjutnya, data tersebut akan dikirimkan ke pemerintah pusat atau daerah dan rumah sakit untuk monitoring dan tindak lanjut terhadap manusia yang suhu tubuhnya di atas batas normal itu. Misalnya, dengan melakukan penjemputan suspect tersebut agar segera diperiksakan ke rumah sakit terdekat dan dikarantina.

“Sistem ini sangat efektif sebab data pasien atau manusia yang terindikasi suhu tubuh di atas batas normal dapat terdeteksi secara cepat dan realtime,” ujarnya.

Lukman menjelaskan, inovasi ini memungkinkan integrasi antara aplikasi user, aplikasi rumah sakit, dan aplikasi pemerintah. Sehingga mempermudah pelacakan orang yang terdeteksi oleh sensor tersebut.

“Selain itu, terdapat notifikasi berupa pengiriman pesan informasi kepada yang terdeteksi sensor ini berupa suhu tubuh yang diukur dan informasi rumah sakit, agar melakukan pengecekan manual ke rumah sakit atau karantina mandiri di rumah,” tambahnya.

Ide detektor suhu terintegrasi ini, kata Lukman, diangkat dari kelemahan pengukuran suhu tubuh secara manual yang masih menggunakan manusia.

Ia mengatakan, dalam pelaksananya, masih dimungkinkan terjadinya kesalahan teknis. Selain itu, ia berpendapat, seharusnya pengecekan suhu memanfaatkan teknologi bukan manusia untuk mencegah kontak fisik dan penularan.

“Dengan melakukan kontak fisik, dapat berpotensi membahayakan petugas tersebut, selain itu proses pendataan secara manual juga memperlambat dalam identifikasi suspect Covid-19,” kata Lukman. (bas/iss)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Radityo Jufriansah

Potret NetterSelengkapnya

Kemacetan di Raya Taman arah Bundaran Waru

Bypass Krian arah Mojokerto Macet

Underpass Satelit arah Mayjen Sungkono Macet

Kemacetan di Manukan

Surabaya
Senin, 28 September 2020
33o
Kurs