Senin, 16 Februari 2026

Megengan di Suara Surabaya Media Sambut Ramadan: “Deadline Jalan, Dosa Jangan”

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Keluarga Besar Suara Surabaya (SS) Media menggelar Tarhib Ramadan atau tradisi Megengan untuk menyambut Bulan Suci Ramadan di ruang komunal Suara Surabaya Centre (SSC), pada Senin (16/2/2026). Foto: Rafi Mg. suarasurabaya.net

Keluarga Besar Suara Surabaya (SS) Media menggelar megengan untuk menyambut Bulan Suci Ramadan di ruang komunal Suara Surabaya Centre (SSC), pada Senin (16/2/2026).

Tradisi megengan yang digelar dalam Tarhib Ramadan itu, melibatkan seluruh divisi di SS Media dengan menghadirkan KH. Ahmad Mujab Muthohar (Gus Mujab) Pengasuh Pondok Pesantren Darut Ta’lim An Nawawi Ampel Surabaya sekaligus Wakil Rois Syuriah PCNU Kota Surabaya, yang menjadi pengisi mauidhoh hasanah.

Tarhib Ramadan tersebut, difokuskan untuk refeksi, sekaligus penguatan nilai spiritual, bagi seluruh kru SS Media menjelang Bulan Suci Ramadan.

Verry Fimansyah CEO SS Media mengatakan bahwa Tarhib Ramadan tersebut menjadi persiapan untuk menjalani ibadah puasa yang lebih khusyuk dan tetap semangat dalam beraktivitas sehari-hari.

Verry Firmansyah CEO Suara Surabaya Media memberikan sambutan dalam gelaran megengan untuk menyambut bulan suci Ramadan di ruang komunal Suara Surabaya Centre (SSC), pada Senin (16/2/2026). Foto: Rafi Mg suarasurabaya.net

“Kita berharap, Bulan Ramadan lebih khusyuk dalam beribadah, baik sholatnya, ngajinya, juga kerjanya,” katanya.

Dengan mengangkat tema “Deadline Jalan, Dosa Jangan” ia juga berharap semua aktvitas di Bulan Ramadan berjalan lancar tanpa kendala.

“Mudah-mudahan kita bisa menjalankan ibadah puasa dengan baik dan apa yang kita kerjakan diterima oleh Allah SWT,” ucapnya.

Sementara itu, KH. Ahmad Mujab Muthohar menekankan pentingnya pengendalian diri dan kesadaran spiritual agar ibadah puasa tetap produktif serta aktivitas sehari-hari dapat berjalan dengan baik.

KH. Ahmad Mujab Muthohar (Gus Mujab) Pengasuh Pondok Pesantren Darut Ta’lim An Nawawi Ampel Surabaya sekaligus Wakil Rois Syuriah PCNU Kota Surabaya memberikan kajian dalam gelaran megengan di ruang komunal Suara Surabaya Centre (SSC), pada Senin (16/2/2026). Foto: Rafi Mg suarasurabaya.net

Menurutnya, manusia dalam kehidupan terdiri dari dua unsur utama, yakni jasad dan ruh, yang keduanya bekerja melalui tiga komponen penting: akal, qalbu, dan nafsu.

Akal berfungsi membedakan antara hal positif dan negatif, sementara qalbu menjadi penentu dalam mengambil keputusan. Adapun nafsu berperan sebagai pemberi energi dalam diri manusia.

“Ketiga komponen tersebut harus dipahami, kemudian dikelola dengan baik agar manusia mampu menjalani kehidupan dengan baik,” ucapnya.

Ia menjelaskan, nafsu dalam diri manusia terbagi menjadi tiga tingkatan. Pertama, nafsu amarah yang mendorong pada perbuatan maksiat. Kedua, nafsu lawwamah, yakni kondisi ketika seseorang menyesali dan bertaubat dari maksiat. Ketiga, nafsu mutmainnah yang mengarahkan manusia pada kebaikan. Seluruh perilaku manusia, termasuk dalam berpuasa, sangat dipengaruhi oleh bagaimana nafsu tersebut dikendalikan.

Dalam konteks ibadah puasa, pemahaman terhadap pengelolaan akal, qalbu, dan nafsu menjadi kunci agar puasa tetap produktif tanpa mengganggu pekerjaan dan aktivitas harian.

Ia juga menyoroti momen krusial dalam kehidupan manusia, yakni saat matahari terbit dan tenggelam. Pada waktu tersebut, manusia dianjurkan untuk menjaga kesadaran diri, termasuk tidak kembali tidur setelah salat Subuh meskipun merasa mengantuk, serta tidak begadang hingga larut malam.

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya pengendalian emosi dalam kehidupan sehari-hari. Kemarahan kerap muncul akibat kelalaian terhadap harapan atau keinginan tertentu. Dalam ajaran Islam, seseorang yang marah dianjurkan mengubah posisinya, dari berdiri menjadi duduk, atau dari duduk menjadi berbaring.

“Jika amarah belum mereda, disarankan untuk berwudu. Mengambil keputusan dalam kondisi marah berisiko menimbulkan penyesalan di kemudian hari,” ucapnya.

Gelaran megengan untuk menyambut bulan suci Ramadan di ruang komunal Suara Surabaya Centre (SSC), pada Senin (16/2/2026). Foto: Rafi Mg suarasurabaya.net

Berkaitan dengan tema “Deadline Jalan, Dosa Jangan”, Gus Mujab menekankan bahwa kerja juga ibadah tapi jangan hanya berorientasi dunia, Tapi urusan dunia harus orientasinya tetap ke akhirat.

Sementara itu untuk terhindar dari perbuatan dosa, ia menekankan perlunya memohon pertolongan kepada Allah dengan komitmen yang kuat untuk berhenti dari maksiat. Upaya tersebut harus disertai dengan menjauhi lingkungan pergaulan yang negatif dan mendekatkan diri pada lingkungan yang positif, serta menyusun visi pribadi, identifitasi diri, introspeksi, menyingkirkan pemicu maksiat, mengubah dan mengganti kebiasaan buruk dengan yang lebih baik, serta mentoring atau doa.

Menurutnya, bergaul dengan teman-teman yang saleh akan membawa seseorang ke dalam lingkaran kebaikan dan membantu menjaga konsistensi dalam menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan diridai.

Sebagai penutup, tradisi megengan diwujudkan melalui ramah tamah. Tradisi itu menjadi simbol rasa syukur serta harapan akan kelancaran dan keberkahan dalam menjalani ibadah Ramadan, sekaligus memperkuat nilai kebersamaan keluarga besar Suara Surabaya Media.(ris/iss/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Senin, 16 Februari 2026
30o
Kurs