Senin, 15 Agustus 2022

Sebelum Ditutup, PSK di Ponorogo dan Mojokerto Minta Diajari Mengaji

Laporan oleh Fatkhurohman Taufik
Bagikan
Ilustrasi. Foto : Dok suarasurabaya.net

Para PSK dan Mucikari di lokalisasi Kedung Banteng Ponorogo minta pemerintah menyediakan kerudung, mukena serta melatih mereka mengaji sebelum penutupan lokasi benar-benar akan dilakukan. Pemerintah sendiri sedianya memang akan menutup lokalisasi di Ponorogo itu pada 6 Juni 2015 mendatang.

“Sudah ada kesepakatan, tapi mereka mengajukan permintaan terakhir untuk segera dibelikan kerudung dan mukena serta melatih mengaji. Mungkin untuk bekal mereka keluar dari kegiatan prostitusi,” kata Hizbul Wathon, Kepala Biro Administrasi Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Jawa Timur, Jumat (17/4/2015).

Data yang dimiliki Biro Administrasi Kesejahteraan Rakyat, jumlah PSK di Kedung Banteng saat ini masih mencapai 176 orang dengan mucikari sebanyak 40 orang.

Kerudung dan mukena ini, rencannya juga akan dikenakan oleh para PSK dan mucikari ketika proses penutupan pada 6 Juni mendatang. Sedangkan untuk pelatihan mengaji, pemerintah juga telah menerjunkan Ikatan Dai Lokalisasi (Ideal).

Menurut Hizbul Wathon, pelatihan kerja juga telah dilakukan bagi mereka sehingga paska penutupan, para PSK dan mucikari bisa lebih mandiri. “Kami juga telah menyediakan uang bekal bagi mereka Rp3 juta perorang,” kata Hizbul.

Selain menutup lokalisasi di Ponorogo. Pemerintah Jawa Timur juga akan segera menutup lokalisasi Balong Cangkring di Mojokerto.

Di Balong Cangkring, saat ini masih dihuni sebanyak 138 PSK dan 90 mucikari. Sayangnya, penutupan Balong Cangkring agak rumit karena lokalisasi ini banyak dibackup oleh tokoh-tokoh masyarakat setempat.

Selain itu, di Balong Cangkring ini juga berbaur dengan yayasan yang di dalamnya juga terdapat berbagai kegiatan kemasyarakatan.

Untuk Balong Cangkring, pemerintah provinsi menawarkan tidak akan ditutup melainkan hanya akan melakukan pelarangan kegiatan prostitusi di kawasan itu.

“Jadi langkah di Mojokerto ini pelarangan kegiatan prostitusi, tapi kegiatan lainnya di kawasan itu masih bisa,” kata dia.

Sekadar diketahui, dua lokalisasi ini merupakan kloter terakhir yang akan segera ditutup. Jika berhasil, maka tidak akan ada lagi lokalisasi di Jawa Timur. (fik/dwi)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Langit Sore di Grand Pakuwon

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Surabaya
Senin, 15 Agustus 2022
27o
Kurs