Minggu, 7 Maret 2021

Ahmad Syafii Pernah Menikah Tapi Hanya Bertahan Tiga Hari

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Ahmad Syafii tersangka pencabulan yang dikenal sebagai guru mengaji di sebuah lembaga kawasan Medokan Semampir Indah saat mempraktikkan pencabulan terhadap korbannya, Jumat (8/9/2017). Foto: Denza suarasurabaya.net

Ahmad Syafii satu dari dua tersangka guru mengaji yang mencabuli anak didiknya sendiri pernah sekali menikah tapi tidak sampai tiga hari sudah ditinggal pergi istrinya.

Juwari Ketua RW 08 Kelurahan Medokan Semampir Surabaya menceritakan hal ini kepada suarasurabaya.net, saat rekonstruksi berlangsung, Jumat (8/9/2017).

Ahmad Syafii dan istrinya sempat tinggal di sebuah rumah di seberang bangunan sebuah lembaga tempat mengaji yang disalahgunakan oleh kedua tersangka untuk mencabuli murid-muridnya sendiri.

“Saya lupa nama istrinya. Pokoknya mereka menikah di Madura, di tempat tinggal istrinya, tapi pas sudah balik ke sini, tiga hari istrinya sudah pergi,” kata Juwari. “Setelah istrinya pergi, rumahnya dijual.”

Juwari mengatakan, Ahmad Syafii juga diketahui terbelit utang. Setelah rumahnya laku, dia tinggal di kantor sekretariat Lembaga yang berukuran sekitar 3×3 meter.

Sehari-hari, Ahmad Syafii yang pernah menjadi Tenaga Kontrak Satpol-PP Surabaya berangkat dari sekretariat itu untuk bekerja, lalu pulang ketika malam dan mengajar mengaji di bangunan utama lembaga itu.

Ahmad Syafii menjabat sebagai Sekretaris di Lembaga Nurussobah. Dia bekerja bersama Sunarto Ketua Lembaga itu, yang juga telah ditetapkan polisi sebagai tersangka pencabulan.

Berdasarkan hasil rekonstruksi yang dilakukan oleh Tim Inafis Polrestabes Surabaya Jumat sore, Ahmad Syafii yang paling banyak melakukan pencabulan terhadap muridnya.

Korban sempat mengadukan perilaku menyimpang Syafii kepada Sunarto. Tapi Ketua Lembaga itu justru meminta murid-murid yang melapor agar menurut kepada Syafii atau dikeluarkan.

Syafii juga kerap meminta murid-muridnya yang menjadi korban agar datang ke sekretariat tempat dia tinggal untuk memperdalam ilmu, bahkan saat hari sudah larut.

“Kalau pas Ramadhan, anak-anak ini sampai pernah diminta mengaji sampai jam 3 pagi. Alasannya salat tahajud,” kata Juwari.

Namun warga tidak pernah curiga, karena kedua tersangka tetap bergaul dengan warga lainnya seperti warga kampung biasanya. Bahkan, mereka seringkali memberikan bantuan kepada warga yang tidak mampu.

“Mungkin kalau ada sumbangan dari para donaturnya, mereka memberikan bantuan buat warga sekitar sini yang tidak mampu. Saya sendiri juga tidak pernah curiga,” katanya. (den/bid/ipg)

Potret NetterSelengkapnya

Cemengkalang Banjir

Kemacetan di Ngasinan

Kepadatan di Tol Sidoarjo

Sampah di dekat GOR Gapura Unesa

Surabaya
Minggu, 7 Maret 2021
29o
Kurs