Rabu, 26 Februari 2020

Ludruk Makin Redup, Unair Bakal Bikin Pusat Kajian Kesenian Tradisional

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Pertunjukan Ludruk Ande-Ande Lumut Ikatan Alumni FISIP Unair, tadi malam. Foto: Denza suarasurabaya.net

Ludruk, sebagai salah satu kesenian tradisional di Jawa Timur, eksistensinya semakin meredup. Begitupun seni tradisi lain seperti ketoprak, wayang kulit, serta bentuk kesenian tradisional lainnya.

Prof. Dr. Mohammad Nasih Rektor Universitas Negeri Airlangga (Unair) mengatakan, kesenian tradisional sejatinya adalah media kontemporer penyampai informasi atau pesan kepada masyarakat.

“Dulu belum ada televisi, belum ada handphone. Maka ini (kesenian) jadi sarana untuk mengumpulkan orang banyak di satu tempat,” katanya di Gedung Cak Durasim, Sabtu (7/12/2019) malam.

Orang zaman dulu, kata Nasih, sudah sangat menyadari pentingnya pendidikan dan penyampaiannya melalui media yang menghibur. Wujud yang paling memungkinkan adalah kesenian.

“Kami sadari itu. Karena itu perlu kita lanjutkan. Hemat kami, dengan media ini, komunikasi terjadi secara langsung. Di era digital 4.0 ini, kan, sangat jarang komunikasi terjadi secara langsung,” ujarnya.

Jarangnya komunikasi secara langsung di era digital inilah, baik melalui berbagai aplikasi perpesanan di telepon pintar maupun media sosial, yang memunculkan noise dan distorsi komunikasi.

Melalui media kesenian seperti Ludruk, misalnya, pemain bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat. Pemain bisa berperan sebagai guru, penonton yang menerima banyak informasi.

Sebaliknya, kata Nasih, kalau pertunjukan kesenian itu bisa dikembangkan secara lebih interaktif, penonton juga bisa menjadi guru untuk pemain dan penonton lainnya. Pertukaran informasi pun terjadi.

“Maka menurut saya, ini perlu didorong terus,” kata Nasih. Namun, dia mengakui, minat masyarakat akan kesenian dan seniman tradisional di Jawa Timur semakin kemari semakin merosot.

“Menurut saya, kreasi dan inovasi kawan-kawan (pemain ludruk) ini kurang, ya. Kelihatan dari dialognya,” katanya di sela pertunjukan Ludruk Ande-Ande Lumut Ikatan Alumni FISIP Unair, tadi malam.

Nasih pun mendorong agar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, yang terdiri dari jurusan seperti Sosiologi, Antropologi, Komunikasi dan lain-lain, membuat pusat kajian pengembangan kesenian tradisional.

“FISIP, saya kira, siap mengembangkan kesenian tradisional ini sebagai media pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka perlu adanya kreasi dan inovasi yang dikaji secara mendalam,” ujarnya.(den/dwi)

Berita Terkait